top of page

Jepang : Harmoni di Ujung Timur

  • 4 Apr 2020
  • 39 menit membaca

Diperbarui: 24 Jun 2020


Halo teman-temankuy!

Kembali lagi bersama Bakuyyyy!

Jadi dua tahun lalu Bakuy sempat magang di salah satu kantor akuntan publik di Jakarta. Nah, temen-temen kantor Bakuy sempat tanya macam-macam tentang hobi Bakuy yang demen jalan-jalan sendirian. Trus Bakuy minta mereka buat subscribe blog ini hoho dan waktu baca namanya, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah, "Wah, judulnya 'sushi', pasti lo pernah ke Jepang ya Kuy?"

P.S. : sebelum 16 Juni 2020, nama blognya Bakuy adalah sushitraveler, sebelum akhirnya berubah jadi jalansendiriaja! Alasannya kenapa? Karena Bakuy merasa sushitraveler uda ga relevan lagi sama isi-isi artikelnya Bakuy hoho..

Dan jawaban Bakuy adalah, "Belum."

Hoho. Kalau dipikir-pikir memang aneh sih. Kenapa ya namanya 'sushi', tapi Bakuy sendiri belum pernah tuh ke negara tempat makanan ini berasal. Alasan memberi nama 'sushi traveler' sendiri awalnya bermula dari niat Bakuy yang suka banget sushi, dan berencana untuk mencicipi sushi di semua negara yang Bakuy kunjungi. Akan tetapi, makin lama tujuan itu jadi kurang relevan. Apalagi sebenernya Bakuy lebih fokus ke historical tourism ketimbang culinary tourism. Hmmm...

Semacam kotak ramalan di dekat Sensoji

Oke, itu dibahas nanti lagi aja yah hoho. Kembali lagi ke topik. Waktu itu, Bakuy belum ada keinginan ke Jepang karena menurut Bakuy, Jepang itu terlalu mainstream. Yaaa bukannya ga mau ke tempat-tempat mainstream, tapi maksud Bakuy Jepang tu kayak Dufan gitu lhoo literally everyone pernah ke situ. Trus kalau Bakuy ke situ lagi, nilai tambah apa yang bisa Bakuy kasih untuk teman-temankuy? Maka dari itu, Bakuy belum memprioritaskan Jepang sebagai destinasi Bakuy. Waktu itu Bakuy justru udah sempat menyusun trip ke Eropa Timur, yaitu ke Yunani, Turki, Rumania, Ukraina, dan Polandia.

Akan tetapi, ada serangkaian peristiwa yang membuat Bakuy harus berpikir ulang. Salah satunya adalah keinginan orangtuanya Bakuy (terutama Mama) untuk diajak jalan-jalan. Maklum, mereka belum pernah ke luar negeri. Dan kayaknya sedih juga gitu kalau cuman Bakuy yang pergi ke mana-mana sementara orangtuanya Bakuy engga pernah sama sekali :(

Berbekal dengan hal ini, di suatu hari yang cerah ketika Bakuy sedang lembur, tiba-tiba Bakuy menemukan penawaran harga yang murah banget dari Traveloka. Waktu itu mereka ada kupon potongan harga sampai satu juta gitu. Bakuy uda sempat nyari-nyari dan harga PP yang paling murah adalah ke Prancis (6jutaan), Rusia (5jutaan), Jepang (3,7 juta), dan Hong Kong (2,5 juta). Semuanya menggunakan maskapai full service tapi yang direct flight cuma yang Jepang (Japan Airlines) dan Hong Kong (Cathay Pacific).

Setelah diskusi panjang dengan Wakuy, akhirnya kita sepakat untuk memilih Jepang sebagai destinasi wisata dengan kedua orang tua. Cuman Wakuy itu orangnya engga buru-buru kayak Bakuy. Bakuy waktu itu udah ga tahan lagi untuk issued tiket jadi Bakuy langsung beli dan bayar gitu aja. Soalnya Wakuy lama gitu memutuskannya dan turns out dia sempet bilang kemungkinan ga jadi ikut karena masih ada urusan lain yang perlu biaya besar. Papanya Bakuy juga sempet gamau ikut kalau Wakuy ga ikut. Akhirnya, tinggal Bakuy dan Mama. Yauda dong, Bakuy orangnya gamau batal-batalan. Jadi Bakuy pun issued juga tiket untuk Mama.

Sebuah kebodohan

Waktu Bakuy meng-issued tiket untuk Mama, kondisinya masih pagi. Bahkan Bakuy inget banget itu Bakuy belinya pas di kereta menuju kantor. Setelah pembayaran selesai, Bakuy baru nyadar kalau Bakuy keliru beli tiket! Buset! Jadi tiket berangkatnya bareng, tapi tiket pulangnya beda. Bakuy dapet tiket pulang dari Tokyo jam 6 sore, sedangkan Mama dapet tiket pulang jam 11 siang! Oh no, oh my God!

Bakuy sampaikan ini ke Mama, bilang kalau Mama pulangnya sendiri kira-kira berani engga? Ya tentu aja Mama-nya Bakuy panik dan kebingungan. Ya bener juga sih, masa ibu-ibu pertama kali ke luar negeri trus disuruh pulang sendiri? Kalau masih Malaysia mungkin bisa ya, masih bisa tanya-tanya orang. Lah ini Jepang! Mamanya Bakuy yang engga bisa bahasa Inggris itu sudah pasti akan sangat kesulitan.

Dengan kondisi yang sudah seperti ini, maka Wakuy terpaksa ikut juga hahaha. Untungnya, urusan lain yang sempat menghambat itu akhirnya bisa terselesaikan dan Wakuy jadi bener-bener bisa ikut. Dan, karena Wakuy juga ikut, Papa pun ikut juga. Jadinya rute pulangnya adalah Wakuy pulang sama Mama, dan Bakuy pulang sama Papa. Kenapa harus begitu? Karena masing-masing orang tua harus ditemenin karena mereka berdua sama-sama pertama kali ke luar negeri.

Dan begitulah kebodohan pra-keberangkatan ke Jepang hoho.

Oh iya, Bakuy dan keluarga berangkat tanggal 16-25 September 2019. Ini adalah pertama kalinya Papa dan Mama ke luar negeri, dan pertama kalinya juga Bakuy nge-trip bareng keluarga!

Keberangkatan

Syukurlah kita dapat penerbangan langsung dari Jakarta ke Tokyo dan Tokyo ke Jakarta naik Japan Airlines. Ini penting karena Mama dan Papa udah engga muda lagi. Apalagi tiket promo kan biasanya transitnya super lama. Bakuy kasihan kalau mereka harus nunggu lama di bandara transit. Nanti bisa sakit kalau kecapekan. Tapi kalau sewa hotel juga kemahalan dan sayang juga waktunya nanggung :(

Kita dapat penerbangan pagi dari Jakarta ke Narita, yaitu jam 7 pagi. Supaya engga terlalu capek dan dekat sama bandara, Bakuy dan Wakuy memutuskan untuk nginep di hotel dekat bandara yang ada fasilitas shuttle bandara. Selain itu, harus ada banyak hal di bandara yang harus Bakuy dan Wakuy persiapkan pada H-1 keberangkatan, antara lain mengambil Exchange Order untuk JR Pass serta pocket WiFi. Sehingga, menginap di hotel dekat bandara menjadi sesuatu yang wajib.

Note : baik JR Pass maupun pocket WiFi dari IziRoam kami pesan dari Traveloka. Ulasannya silakan dibaca masing-masing di bagian 'JR Pass' dan 'Internet' yah!

Sekilas tentang Jepang

Jepang merupakan sebuah negara kepulauan di ujung timur Asia. Menurut legenda, negara Jepang didirikan oleh Kaisar Jimmu, kaisar pertama Jepang, pada tahun 660 SM. Sang kaisar sendiri dipercaya sebagai keturunan langsung dewi matahari dalam agama Shinto, Amaterasu. Sehingga, banyak orang keliru menganggap ini sebagai alasan mengapa Jepang disebut sebagai 'Negeri Matahari Terbit'. Padahal, asal mula dari sebutan tersebut adalah dari surat Pangeran Shotoku kepada Kaisar Tiongkok (Dinasti Sui), yang berisi sapaan hangat yaitu, "The Son of Heaven where the sun rises (Japan), to the Son of Heaven where the sun sets (China), may good health be with you". Atau mudahnya, posisi Jepang yang berada di sisi paling timur adalah sisi di mana matahari terbit, sedangkan Tiongkok yang berada di barat adalah posisi di mana matahari terbenam.

Lukisan yang mengilustrasikan Kaisar Jimmu

Selain disebut sebagai "Negeri Matahari Terbit", Jepang juga disebut sebagai "Negeri Harmoni" atau dalam bahasa Jepang disebut 'Wa/Wo'. Banyak orang yang belum memahami alasan dibalik adanya penyebutan ini. Jadi, dalam catatan sejarah, orang-orang Tiongkok maupun Korea selalu menggunakan huruf 倭 setiapkali mendeskripsikan tentang Yamato (nama lama Jepang sebelum berubah menjadi Nippon). Di dalam bahasa Mandarin, huruf ini dapat berarti 'penurut' dan 'kerdil', sehingga orang Jepang mengubah Kanji tersebut pada abad ke-8 menjadi 和 yang berarti 'harmoni', tapi dengan pengejaan yang sama dengan 倭. Sejak saat itulah Jepang disebut sebagai 'Negeri Harmoni', sementara penggunaan huruf 倭 akan dianggap sebagai penghinaan oleh orang Jepang yang kerapkali dipakai oleh orang Tiongkok dan Korea jika hubungan kedua negara tengah memanas.

Walaupun menyematkan 'harmoni' dalam nama negaranya, kenyataannya Jepang adalah negara yang tidak pernah stabil akibat kekisruhan internal yang tiada henti-hentinya. Dalam konstitusi Jepang, kaisar merupakan sumber dari segala otoritas dan kedaulatan. Namun, pada kenyataannya, kaisar Jepang selalu dipengaruhi oleh kekuatan politik eksternal dan nyaris tidak pernah benar-benar berdaulat atas negerinya. Bahkan, berbeda dengan monarki-monarki Eropa, kaisar Jepang tidak pernah memimpin langsung pasukannya di medan pertempuran.

Selama berabad-abad, kekuasaan dipegang oleh shogun dan kelas samurai. Beberapa yang paling terkenal antara lain Oda Nobunaga, karena pada masa kekuasaannya-lah Jepang pertama kali melakukan kontak dengan bangsa Eropa di abad ke-16, yaitu dengan datangnya pedagang-pedagang Portugis dan Belanda. Selain itu, ada juga Toyotomi Hideyoshi yang terkenal akibat pembantaian terhadap orang-orang Kristen serta invasi yang gagal ke Semenanjung Korea pada tahun 1592 dan 1597. Keshogunan terakhir di Jepang adalah Keshogunan Tokugawa yang berdiri pada tahun 1600 setelah Tokugawa Ieyasu berhasil mengalahkan Klan Toyotomi dalam Pertempuran Sekigahara. Klan Tokugawa pun menguasai seluruh Jepang (disebut Zaman Edo) hingga Restorasi Meiji tahun 1868.

Restorasi Meiji dilatarbelakangi oleh kedatangan Komodor Matthew C. Perry dari Amerika Serikat ke Kanagawa tahun 1853. Pada saat itu, orang Jepang langsung menyadari bahwa negeri mereka tertinggal jauh dibanding negara-negara Barat, dan sebagian besar menyalahkan keshogunan yang dianggap 'tidak becus' dan 'serakah'. Bahkan, salah seorang tokoh feudal Jepang, Shimazu Nariakira, berpendapat bahwa, "Jika kita berinisiatif, kita bisa mendominasi. Tapi jika tidak, kita-lah yang akan didominasi". Maka, timbul-lah keinginan untuk merebut kekuasaan dari keshogunan dan mengembalikannya pada kaisar yang berkuasa saat itu, Kaisar Meiji.

Ilustrasi ketibaan Komodor Matthew C. Perry ke Jepang

Setelah Restorasi Meiji, Jepang pun berkembang pesat dan dalam sekejap berubah menjadi negara Asia pertama yang mampu mengimbangi peradaban Eropa. Akan tetapi, rupanya perubahan ini sekaligus menjadi pedang bermata dua, di mana banyak pemimpin Jepang mulai melihat kemajuan tersebut sebagai justifikasi untuk membentuk koloni di negara lain sebagaimana yang lazim dilakukan bangsa Eropa pada masa itu. Melihat gelagat ini, Jendral Tiongkok Li Hongzhang langsung memandang Jepang sebagai ancaman paling nyata terhadap keamanan mereka. Kekhawatiran ini akhirnya terbukti pada tahun 1895 ketika Jepang merebut Taiwan dari Dinasti Qing (Tiongkok), lalu pada tahun 1910 ketika mereka melakukan hal yang sama terhadap Korea.

Demonstrasi anti-Jepang di Amerika Serikat

Semangat imperialisme bangsa Jepang pada saat itu - yang dilatarbelakangi oleh masa lalunya yang memang berdarah-darah - membuat mereka akhirnya memulai Perang Pasifik dengan menginvasi Tiongkok di tahun 1937. Belum selesai menundukkan seluruh Tiongkok, Jepang langsung menyasar negara-negara lain di selatan, yaitu Asia Tenggara yang kaya sumber daya alam tapi terbelenggu oleh penjajahan bangsa Eropa. Setelah menyerang Pearl Harbor tahun 1942, Jepang dalam sekejap berhasil mencaplok Hong Kong, Filipina, seluruh Indochina, Malaya, Singapura, Borneo Utara, dan Hindia Belanda. Jepang tengah mencoba memperluas wilayahnya hingga ke Papua Nugini sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur oleh Amerika Serikat. Ambisi Jepang akhirnya harus dikubur setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki di bulan Agustus 1945, dan Amerika Serikat pun menjadi kekuatan asing pertama dalam sejarah yang berhasil menginjakkan kaki mereka di tanah Jepang.

Penandatanganan penyerahan Jepang pada Sekutu tahun 1945

Kini, Jepang telah bertransformasi dari negeri militeristik yang haus kekuasaan menjadi negeri futuristik yang haus kemajuan. Dalam sekejap perekonomian Jepang pulih, bahkan menjadi salah satu kekuatan mayor yang tergabung dalam G7. Jepang juga menjadi pemain penting dalam Perang Korea tahun 1953 meski tidak turut berpartisipasi secara langsung. Jepang adalah contoh nyata dari sebuah negara Asia yang dulunya terbelakang dapat berubah menjadi kekuatan yang disegani dunia, sekaligus, contoh dari negara yang berhasil bangkit dari puing-puing pertempuran di era Perang Dunia II.

Sensoji

Tempat pertama yang kami kunjungi di Jepang adalah Sensoji atau Kuil Asakusa. Alasannya bukan karena ini adalah destinasi paling utama, melainkan karena posisinya dekat banget sama hostel tempat kami menginap. Sensoji adalah kuil Buddha paling tua di Tokyo. Tak jauh dari kuil utama, terdapat kuil Shinto Asakusa yang berbentuk pagoda. Kemudian, di hadapan kuil utama terdapat banyak toko suvenir yang disebut Nakamise-dori yang akhirnya berujung pada Kaminarimon.

Gerbang Hozomon

Kuil Sensoji dipersembahkan untuk menghormati Kannon (Dewi Guan Yin). Menurut legenda, ada dua orang nelayan di tahun 628 yang menemukan patung Dewi Kannon di Sungai Sumida (dalam bahasa Jepang disebut Sumidagawa). Karena dianggap sakral, patung tersebut akhirnya disemayamkan di rumah kepala desa yang ada di Asakusa, yang sengaja diubah menjadi semacam kuil agar orang-orang dapat memuja Kannon di sana. Saking terkenalnya, kuil ini bahkan sempat dijadikan kuil utama oleh Klan Tokugawa di masa-masa awal kekuasaan klan tersebut.

Pada masa Perang Dunia II, Sensoji benar-benar hancur akibat pengeboman Amerika Serikat terhadap Tokyo. Akan tetapi, kuil tersebut dibangun lagi sebagai simbol kelahiran kembali untuk orang-orang Jepang.

Kompleks Kuil Asakusa

Pintu masuk ke kuil Sensoji adalah Kaminarimon. Kaminarimon merupakan sebuah gerbang bercorak Buddha yang dilapisi oleh kertas lampion berwarna merah dan hitam. Di balik Kaminarimon, terdapat deretan toko-toko suvenir serta cemilan yang disebut Nakamise-dori. Harga yang ditawarkan di Nakamise-dori berada di kisaran JPY 150 (magnet kulkas) sampai yang paling mahal, tergantung kualitas dan barang yang dijual. Bakuy cuma beli satu magnet kulkas dan satu gantungan kunci di sini, sedangkan Mama dan Papa beli semacam konyaku. Setelah Nakamise-dori, ada gerbang lagi namanya Hozomon. Bakuy kurang tau bedanya apa sama Kaminarimon soalnya mirip banget, kecuali huruf Kanji-nya. Kalau Kaminarimon huruf Kanji-nya 雷 yang artinya listrik (oleh sebab itulah namanya 'kaminari' yang berarti 'petir), sedangkan Hozomon Kanji-nya 小舟町 yang Bakuy ga tau artinya apa.

Nakamise-dori

Note : saat mengunjungi Sensoji, diharapkan untuk mengenakan pakaian yang sopan. Orang Jepang, meski tidak terlalu menganggap penting agama, sangat menjunjung tinggi sopan santun. Kalau teman-temankuy mengunjungi kuil ini di pagi hari, teman-temankuy akan menemukan banyak orang yang datang hanya untuk membungkukkan tubuh di depan kuil sebagai bentuk penghormatan sebelum berangkat kerja. Ketika hari sudah mulai siang, teman-temankuy akan melihat orang-orang melakukan peribadatan seperti membakar dupa atau menggayung air.

Kuil utama Asakusa

Sensoji merupakan tempat yang penuh sesak akan turis karena kuil ini memang salah satu yang paling terkenal di Tokyo. Jika teman-temankuy ingin mengambil gambar Sensoji saat masih sepi pengunjung, datanglah di pagi hari. Tidak perlu takut masih tutup karena kuil ini terbuka 24 jam (kecuali bagian dalam kuil yang memang diperuntukkan untuk peribadatan). Kalau menurut Bakuy, puncak kecantikan Sensoji adalah ketika menjelang matahari terbenam karena pada saat itulah lampu-lampu mulai menyala tapi hari belum terlalu gelap. Sehingga, Kaminarimon jadi terlihat lebih berbinar.

Sensoji kala malam

Untuk teman-temankuy yang ingin ke Sensoji, cara terbaik adalah dengan naik kereta. Sebenarnya ada dua stasiun di dekat Sensoji, dan dua-duanya bernama Stasiun Asakusa. Hanya saja, yang satu hanya dioperasikan oleh Tsukuba Express, sedangkan yang satunya dioperasikan oleh Tokyo Metro, Tobu Skytree, dan Toei. Bakuy engga pernah pakai yang Tsukuba. Btw, baik Tsukuba Express, Tokyo Metro, Tobu Skytree, dan Toei semuanya engga di-cover sama JR Pass yah. Jadi kudu beli tiket terpisah.

Odaiba

Setelah puas muter-muter Sensoji, saatnya pergi ke Odaiba. Kenapa Bakuy pengen ke Odaiba? Karena Odaiba ini tempat syutingnya Digimon Adventure hoho. Kalau teman-temankuy pernah nonton Digimon Adventure, nanti akan ada episode di mana anak-anak terpilih harus menghadapi Venomvamdemon. Nah, cara anak-anak ini buat ngalahin Venomvamdemon adalah dengan nendang puing berbentuk bola gede ke perutnya si Venomvamdemon. Nah, puing berbentuk bola gede itu nyatanya adalah kantor pusat Fuji TV yang berada di Odaiba!

Selain karena Odaiba, Wakuy juga pengen ke Divercity, tempat yang dinobatkan sebagai Gundam Base. Disebut demikian karena di pusat perbelanjaan ini terdapat replika Gundam dalam ukuran aslinya. Trus selain itu... udah. Hehe. Alasan utamanya memang karena kita pengen ziarah ke lokasi syuting utamanya Digimon Adventure karena kita suka banget sama anime itu haha.

Tujuan pertama kita adalah ke Toyosu Fish Market. Jadi, Tokyo punya pelelangan ikan tuna terbesar di dunia yang dulunya dilakukan di Tsukiji Fish Market. Tapi tempat itu dianggap terlalu sempit. Selain itu, Pemerintah Tokyo juga takut hal ini akan menjadi isu lingkungan menjelang perhelatan Olimpiade tahun 2020. Jadi, sebagai gantinya, mereka bikin lokasi baru khusus untuk pelelangan ikan tuna di Odaiba, yaitu di Toyosu ini. Tapi ingat, yang pindah cuma kegiatan pelelangan ikan sama sedikit restoran saja. Untuk pasar jajanan seafood-nya masih di Tsukiji.

Toyosu Fish Market

Menurut Bakuy, Toyosu Fish Market ini gede dan bersih banget tapi engga ada isinya hoho. Apalagi Bakuy datangnya pas udah siang, jadi udah gaada aktivitas pelelangan tuna lagi. Isinya cuma mesin-mesin yang uda dimatiin dan udah gitu. Gaada apa-apa lagi selain foto-foto aktivitas pelelangan tuna dan penjelasannya. Jadi, kalau teman-temankuy mau lihat pelelangan, datangnya kudu pagi-pagi buta. Karena pada saat jam segitulah para nelayan baru balik dari laut dan langsung ikan yang masih segar itu dilelang. Trus kita mengamatinya engga dari dekat, tapi dari kaca gitu di lantai dua. Jadi engga kedengeran di bawah lagi ngomongin apa. Denger-denger sih katanya ada sedikit yang boleh ngeliat secara langsung, tapi sistemnya diundi gitu dan Bakuy gatau caranya. Tapi yauda lah ya Bakuy juga engga tertarik ngeliat orang jualan tuna sih.

Selepas dari Toyosu, awalnya kita mau ke kantor Fuji TV tapi karena lapar, kita memutuskan untuk makan siang dulu. Sayangnya, kesempatan ini dipakai oleh Mama untuk liat-liat sepatu di mal :( Jadinya seharian itu kita muter-muter mal di Odaiba cuma buat Mama nyari sepatu Nike karena kata Mama, di Jepang gaada barang palsu jadinya itu kesempatan untuk beli Nike. Bakuy sih geleng-geleng aja karena menurut Bakuy sepatu mah di mana-mana sama aja kan. Apalagi pas liat labelnya, ternyata Made in Vietnam, Made in Cambodia, bahkan... Made in Indonesia...

Di dalam Mal Venus, Odaiba

Yaampun, Bakuy uda ngomongin ini ke Mama tapi tetep keukeuh mau lihat-lihat. Mama bilang walaupun dibuat di Asia Tenggara, tapi produk itu cuma dijual di Jepang. Bakuy engga tau ini bener atau engga, kalo teman-temankuy tau, bisa tolong komentar yah. Dan akhirnya, dua jam dipakai buat muter-muter mal yang akhirnya engga beli apa-apa hoho karena Wakuy bilang ke Mama jangan langsung beli yang berat-berat di hari pertama. Soalnya kita masih harus pindah-pindah kota lagi. Nanti bakal ribet bawanya :(

Karena keasyikan nyari sepatu, akhirnya lupa makan siang. Jadi kita makan siang di Divercity Mall yang mana itu juga lokasi Gundam Base. Kita waktu itu makan ramen di foodcourt. Pesannya sih chicken ramen ya tapi gatau halal atau haramnya yang penting uda pesen ayam hoho. Setelah makan, kita jalan-jalan sebentar di Divercity Mall sebelum foto-foto di depan patung Gundam. Nah, pada saat jalan-jalan inilah Bakuy jadi tau kalau kita satu keluarga punya selera yang beda-beda. Misalnya, Bakuy bener-bener nyari produk yang Made in Japan. Jadi Bakuy ke Hello Kitty Japan bukan karena suka Hello Kitty, tapi karena Bakuy pikir produk itu cuma ada di Jepang jadi bisa jadi kenang-kenangan kalau Bakuy memang pernah ke Jepang. Trus, Mama dan Wakuy nyari makanan gitu. Wakuy beli Tokyo Banana buat oleh-oleh temen kantor, trus Mama juga beli cemilan-cemilan kecil yang menurut Mama unik. Sedangkan Papa... ke apotek buat nyari obat gosok khas Jepang. Asli, ini keluarga seleranya beda-beda semua hoho.

Gundam Base, Divercity Mall, Odaiba

Note : Bakuy sudah membuktikan kalau orang Jepang tidak menerima tip dalam bentuk apapun dan jumlah berapapun. Jadi kita beli jeli labu gitu. Jelinya terbuat dari labu. Enak, jadi kita beli. Nah, si bapak yang jualan ini uda tua tapi ramah banget. Orang Jepang yang Bakuy temui memang rata-rata ramah banget. Pas bayar, harganya ga genap gitu. Kalau ga salah JPY 498, kita bayar JPY 500. Kembaliannya cuma JPY 2 kan, yauda kita ikhlasin aja dan tinggal pergi gitu. Eh, dikejar dong! Sampek si bapak ini ninggalin lapaknya (padahal dia sendirian dan lagi ada pembeli) cuman buat balikin JPY 2! Trus dia senyum gitu ke kita bilang terima kasih. Waow, ini sama seperti yang Bakuy lihat waktu naik taksi di Taiwan.

Untuk teman-temankuy yang mau ke Toyosu Fish Market, bisa turun di Stasiun Shijo-mae. Kalau mau ke Divercity Mall, bisa turun di Stasiun Daiba atau Stasiun Tokyo International Cruise Terminal. Semuanya berada di Yurikamome Line yang juga tidak di-cover oleh JR Pass.

Harta Karun Tersembunyi di Selatan

Nah, Bakuy kan sempat bilang tadi kalau Bakuy engga mau ke Jepang karena terlalu mainstream. Teman-temankuy juga pasti banyak yang pernah ke Jepang, kan? Maka dari itu, Bakuy merasa ga ada nilai tambahnya kalau Bakuy juga mengikuti arus yang sama.

Tapi, berhubung tiket sudah di tangan, Bakuy mulai mencari alternatif lain agar perjalanan ini bukan jadi perjalanan yang biasa-biasa saja. Setelah mencari-cari informasi, Bakuy pun tau kalau sebagian besar orang Indonesia yang ke Jepang hanya mengunjungi tiga tempat yaitu Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Bakuy bisa mengerti untuk Tokyo dan Kyoto, tapi Bakuy masih belum menemukan sesuatu yang menarik untuk dikunjungi di Osaka. Maksud Bakuy, Osaka itu ya isinya kota-kota lagi. Instead of Osaka, kenapa ga ke Tokyo aja sekalian? Kalau tentang makanan, Tokyo juga punya banyak opsi yang menarik. Lantas, untuk apa ke Osaka?

Akhirnya Bakuy dan Wakuy sepakat untuk mencoret Osaka dan mencari alternatif lain. Begitu mencari-cari informasi, ada satu pilihan lain yaitu Hokkaido. Tapi lagi-lagi Bakuy skeptis. pariwisata Hokkaido lebih fokus ke scenic tourism, padahal scenic tourism bukan sesuatu yang Bakuy prioritaskan. Bakuy lebih tertarik pada destinasi yang benar-benar unik, yang engga ada di manapun di dunia ini, yang bisa menjadi ciri khas bahwa Bakuy memang sudah pernah menginjakkan kaki di Jepang. Kami sempat berpikir untuk memasukkan Tottori karena gumuk pasirnya yang menarik, tapi melihat transportasi serta akomodasi yang sulit, kami membatalkannya. Lalu sempat terlintas untuk ke Aoshima atau Tashirojima (Pulau Kucing), tapi posisinya ada di utara, sedangkan kita pengen ke Kyoto yang ada di selatan. Bisa-bisa waktunya nanti habis di jalan. Maka, kami pun mencoret kedua destinasi itu dari daftar.

Kemudian, tiba-tiba Bakuy berpikir untuk pergi lebih jauh ke selatan. Kyoto ada di selatan, lalu kenapa kita harus terpaku di situ saja? Kenapa kita engga sekalian aja terus ke bawah, ke ujung selatan Jepang, yaitu ke Pulau Kyushu? Atau mungkin menyeberang ke Korea sekalian kalau perlu (yang ini kedengaran mustahil karena keterbatasan dana dan cuti). Akhirnya, Bakuy pun menelusuri ke selatan dan akhirnya menemukan satu permata di Pulau Kyushu yang jarang terdengar oleh orang Indonesia kecuali di buku-buku sejarah.

Tempat itu adalah Nagasaki.

Yup. Selama ini, orang Indonesia kalau mau wisata sejarah di Jepang seringkali terhenti di Hiroshima. Padahal, Nagasaki tidak kalah menarik. Dan setelah Bakuy pelajari lebih dalam lagi, Pulau Kyushu ternyata memiliki sejarah yang sangat unik dan berbeda dibanding wilayah-wilayah lainnya di Jepang : sejarah umat Kristen yang tersembunyi (Kakure Kirishitan). Seperti yang kita ketahui, Pulau Kyushu adalah wilayah Jepang yang pertama kali sekaligus yang paling intens melakukan kontak dengan orang Eropa, terutama Portugis dan Belanda. Hal ini membuat penduduk sekitar lambat laun memeluk agama Kristen. Agama Kristen awalnya tidak dipermasalahkan oleh otoritas keshogunan, tapi karena jumlah mereka terus bertambah, Shogun mulai khawatir mereka akan jadi ancaman terhadap persatuan Jepang.

Maka, pada abad ke-17, Keshogunan Tokugawa mengeluarkan titah untuk memaksa umat Kristen untuk berpindah keyakinan atau dieksekusi. Kisah inilah yang akhirnya menginspirasi salah satu episode di Samurai X, yaitu ketika Himura Kenshin harus berhadapan dengan Amakusa Shogo, seorang Kristiani yang menyimpan dendam pada Pemerintah Jepang.

Stasiun Nagasaki

Keunikan Nagasaki membuat Bakuy dan Wakuy tak butuh waktu lama untuk sepakat menjadikan Nagasaki sebagai destinasi utama dari perjalanan kali ini.

Gunkanjima/Battleship Island

Masih ingat film Korea Selatan yang berjudul Battleship Island? Film yang dibintangi Song Joong-ki itu memang tidak seterkenal Descendants of the Sun, tapi setting lokasi film tersebut adalah di Pulau Hashima yang ada di Nagasaki. Atau, jika teman-temankuy pernah menonton Shingeki no Kyojin Live Action atau film horor Thailand judulnya Hashima Project, pasti akan familiar dengan pulau ini. Sebab, salah satu adegan serta poster dari film tersebut diambil di pulau ini!

Pulau Hashima atau yang lebih sering disebut Gunkanjima atau dalam bahasa Inggris disebut Battleship Island adalah sebuah pulau yang telah sepenuhnya ditinggalkan. Pada abad ke-19, pulau ini mengalami pertumbuhan besar-besaran setelah ditemukannya tambang batu bara oleh Mitsubishi. Dalam sekejap, pulau ini berubah dari yang tadinya hanya pulau kecil tak berpenghuni menjadi sebuah pulau industri yang padat penduduk. Bahkan, kepadatan penduduk di pulau ini sempat melebihi kota Tokyo. Pada puncak kejayaannya, pulau ini memiliki fasilitas yang sangat memadai seperti apartemen, sekolah, dan rumah sakit. Alasan mengapa orang-orang menyebut pulau ini sebagai Gunkanjima adalah karena dinding laut yang berada di sekeliling pulau ini membuatnya lebih tampak seperti sebuah kapal perang ketimbang pulau.

Pulau Hashima dari kejauhan

Akan tetapi, seiring dengan ditemukannya bahan bakar minyak pada tahun 1960an, batu bara perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Begitupula dengan Gunkanjima yang semakin ditinggalkan oleh penduduknya - yang hampir semuanya adalah pekerja tambang. Mitsubishi akhirnya memutuskan untuk menutup pertambangan pada bulan Januari 1974, dan pada bulan April di tahun yang sama, Gunkanjima telah sepenuhnya ditinggalkan. Ketertarikan akan pulau ini baru dirasakan kembali di awal abad ke-21, di mana orang-orang terkesima dengan struktur bangunan yang sebagian besar masih utuh seperti saat ditinggalkan tiga dekade lalu.

Battleship Island

Berkat usaha pemerintah dan masyarakat Nagasaki, Gunkanjima akhirnya disetujui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada bulan Juli 2015 - sesuatu yang tak disukai pemerintah Tiongkok dan Korea Selatan. Penyebabnya adalah karena kedua pemerintahan tersebut menganggap Jepang telah berusaha menyembunyikan sejarah kelam terkait warga Tiongkok dan Korea yang dikirim ke pulau tersebut untuk kerja paksa selama Perang Dunia II. Kisah inilah kemudian yang diangkat ke dalam film Battleship Island yang dibintangi Song Joong-ki. Sayangnya, Bakuy tidak bisa memverifikasi keabsahan cerita ini karena memang selama tur, Bakuy tidak pernah mendengar atau melihat informasi terkait kerja paksa selama Perang Dunia II yang terjadi di Gunkanjima.

Dermaga kecil yang masih berfungsi di Gunkanjima

Untuk berkunjung ke pulau ini, teman-temankuy tidak bisa datang begitu saja. Teman-temankuy harus ikut tur berlisensi resmi karena Pemerintah Jepang mengkhawatirkan struktur bangunan yang rapuh, yang dikhawatirkan bisa roboh kapan saja jika terjadi sesuatu yang tak diperkirakan. Oleh sebab itu, Pemerintah Jepang menunjuk beberapa operator wisata terpilih untuk menjalankan standar operasional demi menjaga keamanan pengunjung yang hendak melihat pulau tersebut.

Reruntuhan tambang batubara

Bakuy menggunakan jasa dari Gunkanjima Concierge, sebuah agen perjalanan khusus ke Pulau Gunkanjima yang dioperasikan oleh anak-anak eks-pekerja tambang. Harganya kalau dirupiahin sekitar IDR 490rb pesan dari Klook, termasuk cruise, jalan-jalan di pulau, dan audio-guide berbahasa Inggris. Mereka ada dua kali tur sehari, yaitu pagi dan siang. Bakuy memilih yang pagi karena siangnya ingin eksplor tempat-tempat lain di Nagasaki. Menurut Bakuy, pelayanan mereka sangat memuaskan. Mereka ramah dan sigap. Hanya saja, belum ada staf yang benar-benar fasih berbahasa Inggris, sehingga peserta tur yang non-Jepang kesulitan memahami penjelasan. Audio-guide memang membantu, tapi tidak banyak. Semoga ke depannya Gunkanjima Concierge mempertimbangkan untuk mengadakan staf yang fasih berbahasa Inggris. Selebihnya mereka udah oke kok! Berangkat juga tepat waktu!

Dulu pulau ini adalah pusat pertambangan batubara yang ramai

Note : Jepang sangat memprioritaskan keselamatan di atas apapun. Meskipun sudah melakukan reservasi dan naik ke kapal, teman-temankuy belum tentu bisa bersandar di Gunkanjima. Jika nakhoda merasa ombaknya tidak bagus untuk bersandar, tur perjalanan ke pulau bisa saja dibatalkan sehingga teman-temankuy cuma bisa memandangi Gunkanjima dari kejauhan. Pun, jika cuaca tidak mendukung, tur bisa sewaktu-waktu dibatalkan dengan jaminan uang kembali atau kompensasi lainnya. Bakuy beruntung banget karena hari itu cerah. Sebab, keesokan harinya, Nagasaki tiba-tiba dihantam badai sehingga tur dibatalkan. See?

Reruntuhan kota

Ohiya, tur ini dimulai di Kantor Gunkanjima Concierge. Teman-temankuy cukup turun di Halte Trem Ourakaigandori trus nyeberang ke arah yang ada lautnya. Di situ ada bangunan panjang, nah di situ kantornya. Jangan lupa datang setengah jam sebelum keberangkatan karena harus registrasi dulu.

Gereja Oura dan Sites of the Martyrdom of the 26 Saints of Japan

Gereja Oura atau Basilica of the 26 Martyrs of Japan terletak tidak jauh dari kantor Gunkanjima Concierge dan merupakan satu-satunya bangunan bergaya Barat yang dikategorikan sebagai harta nasional oleh Pemerintah Jepang. Ide pembangunan gereja ini bermula pada tahun 1863, yaitu ketika dua orang rohaniawan Prancis datang ke Nagasaki dengan maksud untuk mendirikan gereja demi menghormati kemartiran 26 umat Kristen di Jepang. Keduapuluhenam orang ini terdiri dari 9 orang jesuit Eropa dan 17 orang Jepang yang mati disalib oleh Toyotomi Hideyoshi tahun 1597.

Gereja Oura

Pada tahun 1865, tak lama setelah gereja tersebut selesai dibangun pertama kali, salah seorang pastor di sana terkejut melihat sekumpulan orang mendatangi gereja tersebut dan berkata bahwa mereka memiliki hati yang sama dengan sang pastor, serta bertanya di mana patung Bunda Maria. Sang pastor pun menyadari bahwa orang-orang tersebut berasal dari salah satu desa terdekat bernama Urakami, dan mereka adalah keturunan dari umat Kristen yang terpaksa menyembunyikan keyakinan mereka selama berabad-abad karena takut dipersekusi oleh keshogunan (dalam bahasa Jepang, orang-orang ini disebut Kakure Kirishitan atau Kristen yang Tersembunyi).

Koleksi di Sites of Martyrdom of the 26 Saints of Japan

Demi memperingati peristiwa tersebut, dan untuk memberi penghormatan atas penderitaan umat Kristen di Jepang yang mengalami persekusi selama berabad-abad, sebuah patung marmer Bunda Maria yang diimpor dari Prancis diletakkan tepat di depan gereja ini. Berita ini akhirnya sampai ke telinga Paus Pius IX, yang menyatakan ini sebagai "Keajaiban Oriental (Miracle of the Orient)".

Relik jubah yang dikenakan para santo yang dibunuh, masih ada noda darah

Untuk memasuki Gereja Oura, teman-temankuy bisa membayar JPY 1000. Akan tetapi, karena kehabisan waktu, Bakuy memutuskan untuk tidak usah masuk dan berfoto-foto dari luar saja. Kami juga sempat membeli kue dan puding khas Nagasaki yang enak bangettt!! Bakuy lupa nama kuenya apa, tapi kalau puding-nya namanya Nagasaki Minami Yamate Pudding! Waktu Bakuy ke situ, ada tiga varian rasa yaitu original, salted caramel, stroberi, dan matcha. Bakuy beli yang original, Wakuy yang salted caramel, dan Papa Mama yang matcha. Semuanya enak-enak dan melted gitu di lidah sampek terharu makannya :") pokoknya kalau ke Nagasaki teman-temankuy wajib beli ini yah!

Puding Nagasaki yang luar biasa enak!

Btw untuk teman-temankuy yang mau ke Gereja Oura, lokasinya dekat banget dengan Halte Trem Ourakaigandori. Situs ini bisa dicapai dengan jalan kaki sedikit menaiki jalan menanjak (engga capek kok nanjaknya, bukan tanjakan yang parah, sehingga Mama dan Papa bisa ikut naik tanpa kesulitan).

Koleksi di Sites of the Martyrdom of the 26 Saints of Japan

Setelah dari Gereja Oura, kami pun pergi ke situs umat Kristiani lainnya yaitu Sites of Martyrdom of the 26 Saints of Japan. Ini adalah museum dan monumen yang dibangun di Bukit Nishizaka untuk menghormati 26 santo yang menjadi martir saat berusaha menyebarkan ajaran Kristen di Jepang. Setelah mengunjungi museum ini, Bakuy baru tau kalau 26 santo tersebut bukan berasal dari Nagasaki. Mereka ditangkap di Kyoto dan Osaka oleh pasukan Toyotomi Hideyoshi, kemudian dibawa ke Nagasaki dan dieksekusi di sana sebagai bentuk ancaman karena populasi umat Kristen di Nagasaki sangat besar.

Monumen peringatan para santo

Koleksi museum ini menurut Bakuy sangat emosional karena bukan hanya menyimpan artikel-artikel, melainkan juga artefak sejarah perihal umat Kristen di Nagasaki seperti misalnya surat-surat para jesuit, patung-patung Bunda Maria, lukisan, hingga kain yang dikenakan para martir ketika dieksekusi salib pada 5 Februari 1597. Museum ini dibagi menjadi tiga fase, yakni fase awal Kristenisasi, fase eksekusi, dan fase persekusi pasca-eksekusi. Akibat adanya persekusi terhadap umat Kristiani oleh Toyotomi Hideyoshi dan Klan Tokugawa, umat Kristen Jepang terpaksa harus menyembunyikan iman mereka dan melakukan peribadatan diam-diam. Mereka inilah yang dinamakan Kakure Kirishitan. Uniknya, karena pada masa itu buku-buku dan studi terkait Kristen juga dilarang oleh Pemerintah, tata peribadatan Kakure Kirishitan menjadi berbeda dari peribadatan umat Kristen lainnya di dunia. Seperti, misalnya, patung Bunda Maria yang lebih bercorak Asia ketimbang Eropa.

Patung Bunda Maria yang disembunyikan dari otoritas keshogunan di masa lalu

Mengunjungi museum ini membuat Bakuy sadar bahwa persekusi terhadap kaum minoritas dapat terjadi di mana saja dan oleh kaum apa saja. Dan satu catatan di museum yang Bakuy sangat setuju adalah bahwa walau bagaimanapun juga, tidak sepantasnya seseorang dihukum hanya karena apa yang ia imani. Wah, jleb banget ya pesannya.

Salinan doa liturgi dalam bahasa Jepang

Untuk teman-temankuy yang mau berkunjung ke museum ini, bisa turun di Halte Trem Nagasaki Eki-mae. Posisinya berada di seberang Stasiun Nagasaki, kemudian jalan kaki menaiki bukit yang lebih tinggi daripada yang ada di Gereja Oura. Bakuy sangat merekomendasikan museum ini sebagai destinasi karena menurut Bakuy, informasi seperti ini sangat penting bagi kita agar memahami penderitaan satu sama lain, bahwa bukan hanya satu kaum saja yang mendapat ketidakadilan, tapi kaum lain pun bisa merasakannya juga di tempat lain.

Nagasaki Atomic Bomb Museum dan Nagasaki National Peace Memorial Hall for the Atomic Bomb Victims

Belum ke Nagasaki namanya kalau belum berkunjung ke situs yang satu ini. Situs yang engga pernah Bakuy pikirkan sebelumnya untuk Bakuy kunjungi. Situs yang waktu itu Bakuy mengira hanya bisa Bakuy baca di buku-buku teks sejarah.

Pada tanggal 9 Agustus 1945 pukul 11:02 siang, tiga hari setelah Hiroshima berhasil diluluhlantakkan, Amerika Serikat kembali menjatuhkan senjata pemusnah massal di Nagasaki. Tidak pernah ada seorangpun yang membayangkan Nagasaki, sebuah kota pelabuhan kecil di Pulau Kyushu, akan menjadi target bom tersebut. Bahkan, kota ini pun tidak pernah ada dalam daftar target para petinggi militer Amerika Serikat. Mulanya, mereka lebih memilih Tokyo atau Kyoto sebagai target setelah Hiroshima. Tokyo dimasukkan dalam daftar karena posisinya yang vital sebagai ibukota Kekaisaran Jepang. Para jendral Amerika Serikat beranggapan dengan menjatuhkan bom nuklir di istana kekaisaran, maka itu akan menjadikan pukulan telak bagi moril tentara Jepang. Namun, para petinggi politik dan budayawan menentang rencana ini karena mereka tak bisa memprediksi bagaimana reaksi masyarakat Jepang jika melihat seorang pria yang mereka percayai sebagai titisan dewa dibunuh. Kemudian, Kyoto juga dihapus dari daftar mengingat pentingnya kota tersebut sebagai harta karun kebudayaan Jepang.

Museum bom atom Nagasaki

Nama Nagasaki baru muncul di detik-detik terakhir, karena kota tersebut adalah pusat industri baja Mitsubishi. Dengan dihancurkannya Nagasaki, Amerika Serikat meyakini Jepang akan kesulitan untuk melanjutkan perang.

Dokumentasi perjalanan Nagasaki dari awal Perang Pasifik hingga menyerahnya Jepang pada Sekutu

Untuk memasuki museum, pengunjung dikenakan biaya JPY 200 per orang. Cukup murah untuk ukuran museum yang begitu megah dan memuat catatan serta artefak paling berpengaruh dalam sejarah dunia modern. Di dalam museum ini, kita bisa membaca testimoni orang-orang yang menjadi korban bom nuklir. Bakuy baru tau bahwa sebetulnya, sebelum pengeboman terjadi, Amerika Serikat telah memberi pengumuman berupa pamflet dan siaran radio yang memperingatkan masyarakat Nagasaki bahwa kota tersebut akan dibumihanguskan. Masyarakat pun sebetulnya telah membuat persembunyian di luar kota. Namun, karena pengeboman tak kunjung terjadi, banyak dari mereka yang memutuskan untuk kembali ke kota. Akibatnya, banyak warga sipil yang menjadi korban.

Replika fat man, bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki

Sebagai negara yang paling banyak mengalami musibah nuklir, Jepang mendokumentasikan dengan sangat baik pengalaman pahit mereka. Terdapat puing-puing sisa peperangan, diorama pra dan pasca-pengeboman, serta barang-barang pribadi yang diambil dari reruntuhan kota. Selain itu, museum ini juga dilengkapi penjelasan dalam bahasa Inggris yang sangat memadai. Sehingga bahasa tidak menjadi kendala untuk menikmati koleksinya.

Episentrum ledakan bom atom tahun 1945

Yang membuat museum ini berbeda dengan museum bom atom di Hiroshima adalah adanya titik episentrum jatuhnya bom atom. Di Hiroshima, episentrum jatuhnya bom tidak terdeteksi. Kemungkinan bom telah meledak sebelum menyentuh daratan. Sehingga yang ada di sana hanya balai peringatan dan monumen perdamaian (please correct me if I'm wrong ya). Di Nagasaki, bom telah benar-benar menyentuh permukaan tanah. Sehingga kita bisa tau persis di mana lokasi bom tersebut dijatuhkan. Titik tersebut kini dijadikan taman peringatan yang menyerupai sebuah lapangan kosong. Tak jauh dari sana, terdapat monumen perdamaian berbentuk patung seorang wanita.

Monumen perdamaian Nagasaki

Untuk teman-temankuy yang ingin mengunjungi museum dan taman ini, teman-temankuy bisa turun di Halte Trem Atomic Bomb Museum atau Nagasaki Genbaku Shiryoukan. Dari halte tersebut, kita perlu sedikit jalan kaki hingga sampai di pintu masuk museum.

Hiroshima Peace Memorial Museum

Pada awalnya, Hiroshima tidak menjadi destinasi kami. Kami sengaja mengosongkan satu hari khusus untuk perjalanan dari Nagasaki ke Kyoto karena takut perjalanan jadi terlalu panjang dan Papa serta Mama kelelahan. Akan tetapi, Papa justru berpendapat lain. Menurut Papa, karena sudah ke Nagasaki, kenapa tidak sekalian saja ke Hiroshima sebentar? Toh perjalanan dari Nagasaki ke Kyoto akan melewati Hiroshima juga. Daripada disimpan untuk trip selanjutnya yang belum tau juga akan dilakukan kapan, bukannya lebih baik dihabiskan sekalian saja?

Naik shinkansen!

Bakuy dan Wakuy pun mempertimbangkan masukan ini dan sepakat untuk mampir di Hiroshima sebentar sebelum ke Kyoto. Pun di Hiroshima, tujuan kami cuma ke museum bom atom sahaja. Namun, kami memberi catatan penting kalau kami cuma akan mampir jika dapat loker penitipan barang di Stasiun Hiroshima. Kalau tidak dapat, ya batal. Karena ga mungkin dong kita geret-geret koper keliling Hiroshima?

Atomic Bomb Dome, reruntuhan yang dibiarkan seperti aslinya

Syukurlah, kami kebagian loker meski harus ekstra mencari karena rupanya banyak turis asing lain yang hanya melakukan day trip ke Hiroshima. Lokernya kalau ga salah ada tiga macam dan yang membedakan hanya ukurannya sahaja. Bakuy lupa berapa harga persisnya, tapi seingat Bakuy loker yang paling gede itu harganya ga nyampe JPY 1000. Kalau ga salah sekitar JPY 800 deh. Dan untuk tau mana loker yang kosong dan mana yang tidak, tinggal lihat lampu indikatornya. Kalau hijau berarti kosong, kalau merah berarti occupied. Pun loker ini engga ada penjaganya. Jadi tinggal masukin koin, trus keluar semacam struk yang ada QR Code-nya, udah. Dan seingat Bakuy dia cuma bisa sekali kunci dan sekali buka gitu. Jadi pastikan sebelum teman-temankuy mengunci loker, barang-barang yang ingin dibawa sudah keluar semua. Karena kalau ada barang penting yang ketinggalan, dan teman-temankuy buka lokernya, ya teman-temankuy harus bayar lagi :( ohiya, untuk buka lokernya, tinggal pindai sahaja QR Code yang ada di struk tadi. Kelar deh!

Museum yang masih direnovasi

Karena cuma transit, kami tidak lama jalan-jalan di Hiroshima. Kami bahkan engga masuk ke museum karena waktu itu masih direnovasi. Jadi, kami cuma jalan-jalan aja di sekitar tamannya yang asri sama ke sisa-sisa reruntuhan bom atom yang masih berdiri (yang Bakuy sempat dengar belum lama ini mau dirobohkan karena alasan keamanan). Satu hal yang kami perhatikan di sini adalah museum bom atom di Hiroshima jauh lebih ramai daripada yang di Nagasaki. Alasannya mungkin karena Hiroshima kota yang lebih besar sehingga lebih banyak turis asing yang ke sini. Atau, karena Hiroshima cukup dekat dengan pusat pariwisata Jepang yaitu Kyoto dan Osaka. Sehingga turis-turis asing bisa melakukan day trip saja ke kota ini, dibanding ke Nagasaki yang mereka harus menginap dan menghabiskan waktu.

Padahal, menurut Bakuy, Nagasaki jauh lebih menarik dan explorable!

Kyoto Imperial Palace

Sewaktu memutuskan untuk pergi ke Kyoto, Bakuy sudah berkeras untuk mengunjungi istana ini. Kekeraskepalaan Bakuy ini bukannya tanpa alasan. Hal yang membuat Kyoto istimewa adalah karena kota itu merupakan bekas ibukota Jepang. Kyoto merupakan tempat tinggal para kaisar sebelum Reformasi Meiji membawa mereka ke Tokyo. Sehingga, istana ini merupakan jantung dari kota Kyoto sebagai pusat kebudayaan Jepang. Tanpa istana ini, Kyoto bukanlah apa-apa. Dan jika tidak mengunjungi istana ini, maka mengunjungi Kyoto sama saja dengan sia-sia.

Salah satu torii di dekat pintu masuk Istana Kekaisaran Kyoto

Istana Kekaisaran Kyoto merupakan istana baru yang dibangun untuk menggantikan Istana Heian pada akhir abad ke-12. Sama seperti bangunan penting lainnya yang ada di Jepang, istana ini sempat dilalap api dan dibangun berulangkali. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal resmi keluarga kekaisaran dan staf-stafnya, istana ini juga memuat beberapa istana lain yang ukurannya lebih kecil seperti Istana Kekaisaran Sento dan Kyoto State Guest House. Setelah Reformasi Meiji meletus pada 1869 dan ibukota Jepang dipindah ke Tokyo, istana ini pun kehilangan nilai vitalnya. Kendati demikian, Kaisar Taisho dan Kaisar Showa masih menyelenggarakan upacara kenaikan tahta di istana ini.

Beda dengan istana di Rusia, istana di Jepang tidak boleh dimasuki turis

Ternyata, pilihan Bakuy tidak salah. Istana Kekaisaran Kyoto yang kerapkali dilupakan orang ketika mengunjungi Kyoto memang layak disebut sebagai bekas istana kekaisaran. Kompleks istana ini begitu luas sehingga untuk mengeksplor dari ujung ke ujung adalah sebuah tantangan. Di samping itu, arsitektur dan kemegahan bangunannya masih sangat terjaga, membuat kita kembali membayangkan Kyoto di masa lalu di mana institusi kekaisaran masih begitu dianggap sakral. Istana ini juga sangat bersih, terawat. Bahkan hingga ke batu-batu kerikil yang melapisi setiap jalannya diratakan dengan begitu rapi setiap hari oleh para petugas.

Hampir semua bangunan di kompleks istana ini tertutup untuk umum. Kendati demikian, sebagian pintu ruangan ada yang dibiarkan terbuka agar turis dapat melihat interior bagian dalamnya. Ohiya, berbeda dengan raja-raja di negara Eropa yang lukisannya banyak dipajang, di Jepang hal itu sangat tidak lumrah. Bahkan di istana ini pun kami tidak melihat adanya lukisan kaisar yang dipajang.

Istana utama tempat kaisar bertahta

Di Jepang, menemukan museum yang terkait langsung dengan kekaisaran seperti istana ini cukup sulit karena umumnya lebih banyak peninggalan yang terkait dengan keshogunan. Ini disebabkan karena pada zaman dulu, kaisar Jepang tidak benar-benar berkuasa atas negaranya karena secara de facto kekuasaan dipegang oleh para shogun. Maka, mengunjungi istana ini adalah suatu keharusan yang tidak boleh dilewatkan!

Gion

Setelah puas mengunjungi istana kekaisaran, destinasi selanjutnya adalah Gion. Sebetulnya Gion merupakan destinasi yang sangat umum di untuk orang-orang yang berkunjung ke Kyoto, sebab daerah ini merupakan daerah kota tua yang masih kental nuansa Jepang-nya. Bakuy pernah baca salah satu blog yang bilang kalau kita beruntung, kita bisa melihat geisha di Gion yang biasanya keluar saat temaram. Sayangnya waktu Bakuy ke sini, geisha-nya engga ada. Mungkin lagi cuti :(

Pintu masuk Gion yang dipenuhi turis Tiongkok

Kegiatan yang bisa dilakukan di Gion antara lain beli jajanan seperti sate-satean (ada berbagai macam sate seperti sate kepiting, sapi, dan babi). Sisanya ya lihat-lihat dan foto-foto hoho. Ohiya, walaupun ga ketemu geisha, di Gion ini banyak orang yang mengenakan pakaian tradisional Jepang. Jadi teman-temankuy bisa foto dengan mereka. Ohiya, hati-hati kalau memotret orang yaa jangan sembarangan karena perilaku seperti ini dianggap sangat mengganggu di Jepang.

Upacara adat sembahyang pada Dewa

Di samping jajan dan lihat-lihat orang mengenakan kimono/yukata, teman-temankuy juga bisa melihat berbagai macam kuil tua di Gion serta bagaimana tata cara peribadatan orang Jepang seperti membunyikan lonceng dan membakar dupa atau sekadar melempar koin. Pokoknya, Gion ini cocok kalau teman-temankuy ingin jalan-jalan santai dan engga buru-buru.

Wanita dalam balutan yukata

Note : ada banyak turis Tiongkok di Gion. Bukan bermaksud rasis, tapi banyak dari mereka (terutama yang ikut dalam rombongan besar) masih suka melakukan tindakan tak pantas seperti tidak membersihkan toilet dengan benar. Bakuy masuk ke salah satu toilet yang ternyata banyak turis Tiongkok dan itu pesingnya minta ampun! Trus Mama juga jadi engga napsu untuk buang air kecil karena melihat tumpahan tisu di lantai toilet :(

Harajuku dan Shibuya

Kami cuma satu malam di Kyoto, jadi engga bisa eksplor terlalu banyak :( sedih sih, tapi mengingat jatah cuti yang sudah menipis, ya apa boleh buat kan :(

Takeshita Street di Harajuku, yang over-rated menurut Bakuy

Nah, karena Harajuku dan Shibuya itu mirip-mirip, jadi Bakuy jelaskan jadi satu saja yah biar engga kepanjangan. Intinya dua-duanya itu pusat perbelanjaan gitu yang ramai banget terutama pas menjelang malam (jam pulang kantor). Perbedaannya hampir enggak kelihatan, yakni rentang usia pengunjungnya. Sepanjang yang Bakuy lihat, yang jalan-jalan ke Shibuya itu rata-rata orang kantoran gitu trus barang-barangnya juga lebih branded. Kalau Harajuku itu lebih ke anak-anak mudanya, misal di situ ada LINE Official Store.

Riuh rendah di Takeshita Street

Orang-orang bilang di Harajuku banyak orang yang berpakaian cosplay. Yaaa Bakuy memang sempat lihat sih satu-dua orang yang pakai cosplay ala-ala penyihir imut di anime, tapi engga sesuai ekspektasi, ah. Sejauh mata memandang, menurut Bakuy Harajuku itu biasa banget. Kalah jauh dibanding Akihabara. Bakuy ke Harajuku kayaknya cuman beli barang-barang engga penting termasuk nyobain crepes yang dibikin sama cewek-cewek kawaii. Udah itu doang. Sama minum KOI. Selebihnya, engga ada yang berkesan sama Harajuku. Bahkan, Bakuy menganggap tempat ini bisa di-skip saja dan diganti dengan destinasi lain yang lebih menarik.

Patung Hachiko yang melegenda tapi sisanya engga ada yang menarik

Sementara Shibuya ya emang buat belanja doang. Yaaa, ada sih yang menarik yaitu persimpangan jalan tersibuk di dunia sama patung Hachiko. Tapi ya udah gitu. Sama paling LUSH juga di situ ada (si Kania nitip LUSH yang ternyata produknya cuma dijual di LUSH sini. Di Harajuku juga sebetulnya ada LUSH, tapi lebih komplit yang di Shibuya). Jadi kalau teman-temankuy mau ke sini, gausa sediakan waktu lama juga engga apa-apa.

Persimpangan Shibuya yang terpadat di dunia

Pengecualian kalau teman-temankuy memang suka belanja atau berburu kosmetik. Karena Bakuy bukan cowok kosmopolitan yang suka dengan hal ini (dan beruntung keluarga juga engga pada nyari barang-barang kayak gitu) jadi kita ke sini buat lihat persimpangan aja. Habis itu pulang. Enggak nyampe sejam kita di sini. Soalnya bosen banget :(

Yasukuni Shrine

Nah, ini termasuk salah satu destinasi yang sangat menarik tapi sayangnya sering dilupakan atau bahkan tidak diketahui oleh turis-turis asing yang datang ke Jepang. Kuil ini memang tidak seterkenal Kuil Meiji atau Sensoji, tetapi fungsi kuil ini yang sangat kontroversial membuat Kuil Yasukuni sejujurnya lebih layak dikunjungi dibanding kuil-kuil yang lain.

Tampak depan Yasukuni Shrine

Nah, jadi, Kuil Yasukuni adalah kuil Shinto yang didedikasikan untuk menyemayamkan abu dari mereka yang gugur dalam pertempuran demi membela tanah air Jepang serta memperingati dan menghormati jasa-jasa mereka. Sebetulnya kalau dilihat dari penjelasan tersebut, tidak ada yang mengusik dari kuil ini. Akan tetapi, ternyata ada juga tokoh-tokoh fasis Jepang di era Perang Dunia II yang disemayamkan di kuil ini. Sebagian dari mereka bahkan dituding sebagai penjahat perang oleh Tiongkok dan Korea. Dan yang lebih kontroversial lagi, kuil ini selalu dikunjungi oleh perdana menteri Jepang setiap tahun. Akibatnya, setiap kunjungan itu terjadi, pasti akan ada protes dan demonstrasi besar di kedutaan Jepang di Beijing dan Seoul.

Bendara Hinomaru banyak ditemukan di Yasukuni

Dibanding Sensoji yang sangat penuh sesak, Yasukuni bisa dibilang sangat lengang. Saat masuk, kita akan disambut oleh patung Omura Masujiro, seorang pemimpin militer Jepang pada era Bakumatsu yang disebut sebagai 'Bapak Tentara Kekaisaran Jepang'. Setelah itu, barulah kita memasuki area kuil yang dijaga oleh polisi. Menurut Bakuy,hal ini cukup unik. Jepang adalah negara yang sangat aman. Saking amannya, kita engga merasa takut saat ngeluarin uang gede di tengah jalan atau di transportasi umum (yaa cuman malu aja kan diliatin orang hoho). Hampir di setiap tempat jarang sekali ada polisi. Kalaupun ada, polisinya uda tua gitu dan kayaknya sih cuman ngawasin-ngawasin aja sama bikin laporan. Nah, kalau di Yasukuni ini penjaganya adalah polisi-polisi muda yang tampaknya bisa dengan sigap mengambil tindakan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Museum Yushukan

Agaknya, Pemerintah Jepang sadar betul bahwa kuil ini kontroversial. Oleh sebab itu, mereka sengaja memberi pengamanan ekstra pada kuil ini karena takut ada orang yang merusaknya. Bahkan, ada juga larangan untuk melakukan demonstrasi dalam bentuk apapun atau yang membawa simbol-simbol kenegaraan. Kelihatannya dulu banyak orang Tiongkok dan Korea yang datang ke sini sambil membawa bendera mereka dan berorasi, sehingga peraturan ini harus ditegaskan.

Kuil utama Yasukuni yang hanya boleh dimasuki umat yang hendak berdoa

Ohiya, satu hal lagi yang unik dari Yasukuni adalah banyaknya bendera Jepang yang berkibar di sini. Kenapa ini unik? Karena selama sepuluh hari Bakuy di Jepang, cuma di tempat ini Bakuy bisa melihat bendera Jepang yang benar-benar berkibar. Bahkan di Istana Kekaisaran Kyoto saja tidak ada bendera Jepang sama sekali :(

Koleksi pesawat tempur Kekaisaran Jepang di Museum Yushukan

Kuil Yasukuni hanya boleh dimasuki oleh mereka yang hendak beribadah, sehingga kita hanya bisa mengamati kuil tersebut dari kejauhan sambil menjaga sopan santun. Tak jauh dari Kuil Yasukuni, terdapat Yushukan atau museum militer Jepang. Kalau teman-temankuy menyukai sejarah seperti Bakuy, Bakuy sangat merekomendasikan untuk masuk. Soalnya di dalam ada banyak artefak peninggalan sisa perang seperti lokomotif yang dibawa dari Burma (kalau engga salah lho ya). Isinya seru kok, menceritakan perkembangan militer Jepang dari masa ke masa, dari era keshogunan sampai era modern. Sayangnya, informasi dalam bahasa Inggris masih terbatas. Jadi ada cukup banyak yang Bakuy lewati karena tidak ada penjelasan bahasa Inggrisnya :(

Lokomotif peninggalan perang

Note : kalau teman-temankuy mau berkunjung ke Yasukuni, bisa naik kereta dan turun di Stasiun Kudanshita. Ikuti saja yang pintu keluar ke arah Yasukuni. Dari sana, kita bisa langsung melihat gerbang torii khas Jepang berwarna coklat tua. Di situlah Kuil Yasukuni berada! Untuk memasuki area kuil, kita tidak dikenakan biaya, tapi untuk masuk ke Yushukan dikenai biaya JPY 1000 per orang.

Tsukiji Outer Market

Kalau yang ini udah tau lah ya pasti buat ngapain hoho. Tentunya buat menikmati seafood dan makan sushi! Tapi walaupun demikian, tetap hati-hati pilih makanan yah! Meskipun makanan di restoran Jepang yang ada di Indonesia itu enak, tapi selalu camkan bahwa makanan itu sudah dimodifikasi sesuai lidah orang Indonesia. Makanan Jepang yang otentik mungkin agak mengecewakan jika kita membandingkannya dengan yang ada di Indonesia.

Sushi uni (sea urchin) yang udah lama banget pengen Bakuy cobain

Contoh sederhananya, Bakuy sempat beli berbagai macam sate seperti sate daging swordfish, sate gurita, sate hati belut, dll. Dan turns out Bakuy engga begitu menikmati. Apalagi yang hati belut. Gila itu uda kayak makan whiskas!

Macam-macam sate. Dua dari kiri (yang paling hitam) adalah hati belut dan itu amisnya minta ampun!

Hmmm, engga banyak cerita sih di Tsukiji ini. Ya intinya cuma beli seafood aja yang bisa langsung dimakan di tempat. Favorit Bakuy sih semacam kepiting gitu yang isinya agak aneh. Kemungkinan sih itu jerohan sama daging kepiting yang dihalusin terus dikasih bumbu. Menurut Bakuy sih rasanya lumayan ya. Selebihnya ya gitu lah hoho.

Sushi beraneka warna

Udah sih, sebetulnya di Tsukiji ya memang untuk makan-makan aja. Lumayan mengenyangkan dan engga terlalu mahal kok harganya!

Semacam jerohan kepiting

Note : kalau mau ke Tsukiji, bisa naik kereta dan turun di Stasiun Tsukijishijo atau Stasiun Tsukiji. Selalu ingat ya kalau yang dipindah ke Toyosu itu cuma tempat pelelangan ikan tunanya saja, sedangkan kalau teman-temankuy mau makan seafood, tetap bisa ke Tsukiji Outer Market ini.

Akihabara

Ke Jepang tanpa ke Akihabara itu ibarat makan sayur tanpa garam. Mulanya, Akihabara adalah pusat penjualan elektronik di Tokyo. Namun, lambat laun tempat ini pun berevolusi menjadi pusat dari seni kontemporer Jepang. Untuk teman-temankuy pencinta anime, manga, dan game, pasti akan betah mengitari tempat ini. Makanya Wakuy bisa stay seharian di sini. Soalnya tempatnya memang seru dan unik!

Akihabara!

Saat berkunjung ke Akihabara, jangan langsung berpindah dari toko ke toko hanya karena mengira toko tersebut tidak menjual barang yang dicari. Misalnya, teman-temankuy mau mencari mainan figur. Trus sempat ketemu toko elektronik. Coba perhatikan sisi kanan-kiri dari pintu masuk toko. Karena harga sewa gedung yang mahal, seringkali banyak toko yang berbagi bangunan. Sehingga, lantai 1 bisa saja memang untuk penjual barang elektronik, tapi bisa saja lantai 2 isinya toko mainan figur, lalu lantai 3 untuk toko DVD. Nah, untuk toko-toko yang seperti ini, biasanya mereka masang papan gitu di depan tokonya supaya pengunjung bisa tau lantai 2 ke atas itu toko apa aja. Jadi selalu cermat dalam memperhatikan tiap toko, yah!

Koleksi figurin di Akihabara

Beberapa toko juga memiliki segmen khusus untuk dewasa. Biasanya ruangannya ditutupi semacam tirai dan di lantainya tertulis "18+". Itu berarti segmen itu khusus untuk pengunjung dewasa. Isinya macam-macam, mulai dari poster-poster hentai, manga ecchi, sampai video-video bokep juga ada. Umumnya pengunjung di sini adalah laki-laki (hoho) tapi kata Wakuy ada juga perempuan yang tertarik. Dan biasanya sih perempuan yang masuk sini bakal pakai masker gitu trus rambutnya diikat dan dimasukin ke topi biar engga terlalu kentara ama orang-orang.

AKB48 Cafe yang engga Bakuy masukin karena uda ga hafal sama member barunya

Bakuy dan Wakuy selama di sini sih lebih fokus nyari mainan figur karena kalau di Akihabara lebih murah daripada kalau beli di Jakarta. Trus kalau di sini kan tanpa sensor gitu kalau di Jakarta pasti ribet wakakak.


Koleksinya sangat lengkap dan beragam. Harga juga macam-macam, tergantung kualitas. Biasanya sih makin mirip sama tokoh asli di anime, makin mahal mainan figurnya. Dan yang paling berpengaruh sih biasanya bajunya. Ada satu mainan yang dia tokohnya sama, tapi yang satu pakai gaun anggun gitu yang satunya lagi pakai dress biasa kayak yang di anime. Secara penampilan sih emang bagus yang pakai gaun, tapi harga yang pakai gaun cuma JPY 15.000, sedangkan yang pakai dress bisa sampai JPY 23.000. Kurang lebih begitu gambarannya.

Mainan figur di sini tanpa sensor jadi yang telanjang pun ada!

Jika teman-temankuy seorang penggila seni kontemporer Jepang, teman-temankuy bisa spare banyak waktu di sini karena memang sangat recommended. Dibanding Harajuku, Akihabara lebih menarik dan 'berenergi'!

Hati-hati dompet yah! Maksudnya jangan kalap gitu belanjanya haha

Transportasi

Jika transportasi publik di Jordania sangat memusingkan karena keterbatasan pilihan, maka transportasi publik di Jepang memusingkan karena terlalu banyak pilihan hoho. Tapi kalau teman-temankuy engga mau ngabisin terlalu banyak uang untuk transportasi, maka kereta adalah jawabannya - dan memang ini adalah cara terbaik untuk benar-benar mengeksplor Jepang.

Selama Bakuy di Jepang, andalan transportasi Bakuy adalah kereta, bus, dan trem. Di Tokyo, kereta bawah tanah selalu jadi solusi. Di Nagasaki dan Hiroshima, trem adalah pilihan terbaik. Sedangkan di Kyoto, bus dan kereta bawah tanah (tapi jauh lebih dominan dengan bus). Untuk perjalanan antar-kota antar-prefektur, Bakuy naik Shinkansen karena kebetulan Bakuy juga beli JR Pass di Traveloka.

Kereta yang membawa kami dari Hakata ke Nagasaki

Seperti yang sudah Bakuy katakan sebelumnya, pilihan transportasi publik di Jepang sudah sangat matang sehingga ada begitu banyak opsi yang bisa diambil. Misalnya, dari bandara Narita ke pusat kota Tokyo saja ada berbagai macam pilihan seperti taksi, kereta, dan bus. Tapi keretanya bukan cuma satu rute aja seperti kereta bandara Soekarno-Hatta. Operator kereta dari dan ke Bandara Narita ada begitu banyak, mulai dari airport express hingga kereta komuter biasa yang waktu tempuhnya bisa sampai 1 jam.

Memiliki JR Pass bukan berarti teman-temankuy bisa dengan leluasa menaiki setiap jenis kereta di Tokyo. Sebab, hanya jalur-jalur yang dilayani Japan Railway (JR) Company saja-lah yang di-cover oleh JR Pass. Salah satu yang tidak di-cover adalah kereta yang di Odaiba. Rute ini dilayani oleh Yurikamome, sehingga tidak termasuk dalam JR Pass. Adapun operator-operator lainnya seperti Tokyo Metro, Toei, Tsukuba Express, Keihin, Keio, Keisei, Odakyu, Seibu, Tokyu, Tobu, dll, memiliki tiket sendiri-sendiri yang terpisah sehingga jika teman-temankuy ingin naik ke rute-rute yang hanya dilayani oleh operator non-JR, maka harus bayar tiket terpisah melalui ticket vending machine.

Foto di depan Shinkansen Nozomi walaupun engga naik hehe

Saking luasnya jaringan transportasi massal berbasis rel di Tokyo, teman-temankuy mungkin akan merasa sedikit terintimidasi pada awalnya. Sehingga, supaya tidak bingung, biasanya Bakuy harus cari dulu stasiun terdekat dari setiap destinasi yang ingin dikunjungi, kemudian memasukkan destinasi itu ke aplikasi "Perjalanan Jepang - Japan Travel Route, Map, JR" yang bisa diunduh di Google Play. Aplikasi yang didesain oleh Navitime Japan ini sangat praktis dan mudah dipakai. Teman-temankuy tinggal masukkan stasiun destinasi dan stasiun awal, setelah itu akan muncul opsi rute-rute mana saja yang harus teman-temankuy ambil. Rute-rute ini pun bisa disortir berdasarkan waktu, harga, hingga by JR Pass! Jadi dia bisa mencari sendiri rute-rute mana saja yang dilayani oleh JR Pass sehingga teman-temankuy bisa meminimalisir penggunaan rute non-JR. Hebat, kan?

Note : beberapa traveler ada yang menyarankan untuk membeli Suica Card atau Pasmo supaya tidak repot harus membeli tiket di vending machine. Jujur, selama Bakuy di Jepang, Bakuy cuma berbekal JR Pass dan Kyoto 1-Day Tourist Pass. Bakuy engga tertarik beli kartu-kartu yang lain karena takut malah jadi boros. Dan ternyata memang engga gitu ngaruh. Iya sih, kalau pakai Suica atau Pasmo bisa dapat potongan harga, tapi potongan harganya ya cuma JPY 10 gitu pokoknya kecil banget dan engga terasa. Coba bandingkan dengan harga kartunya sendiri yang udah JPY 2.000. Itu buat satu kartu ya, kalau beli 4 kan makin gede aja. Sekali jalan bisa habis minimal JPY 150. Jadi Bakuy lebih pilih beli di vending machine saja hoho. Paling yang bikin repot adalah uang receh jadi banyak.

Trem yang jadi andalan selama di Nagasaki

Kalau di Nagasaki dan Hiroshima, Bakuy sangat mengandalkan trem. Seru juga naik trem karena rasanya seperti kembali ke zaman dulu hoho. Sekali naik, tarifnya jauh-dekat JPY 130. Ada 5 jalur yang dilayani oleh trem Nagasaki. Kalau kita pindah jalur, tidak perlu bayar lagi. Misal, kita naik trem dari Terminal Nagasaki Eki-mae dengan tujuan ke Terminal Ourakaigandori. Saat naik trem di Terminal Nagasaki Eki-mae, misalnya kita naik trem nomor 1 ke arah Sofukuji Temple. Dengan demikian, di Terminal Shinchi Chukagai (Shinchi Chinatown), kita harus ganti kereta dengan trem nomor 5 ke arah Ishibashi. Sebelum turun dari trem di Terminal Shinchi Chukagai, setelah melakukan pembayaran jangan lupa bilang "noritsugi, onegaishimasu" pada masinis trem. Noritsugi ini merupakan tiket terusan yang memungkinkan kita untuk tidak membayar saat turun dari trem selanjutnya. Jadi nanti setelah naik di trem nomor 5 dan hendak turun, masukkan saja noritsugi seperti yang ada pada gambar di bawah ini ke dalam mesin penghitung uang. Beres! Mudah, kan?

Noritsugi

Note : mesin penghitung uang di trem Nagasaki dan Hiroshima sudah sangat canggih. Masinis tidak perlu lagi mengecek uang kita karena mesinnya yang akan menghitung dan memberi kembalian sendiri. Bakuy sempat tolol gitu masukin sambil hitung satu-satu di depan masinisnya HAHAHA eh ternyata kata masinisnya engga perlu, cukup masukin aja uangnya. Menjelaskannya dengan sangat ramah pula. Memang orang Nagasaki lebih ramah sih dibanding kota-kota lain di Jepang yang Bakuy kunjungi.

Untuk trem Hiroshima, Bakuy kurang tau karena Bakuy hanya naik trem yang ke arah Genbaku Domu-mae (lokasi bom atom) dan ternyata ada trem yang memang langsung melewatinya. Jadi Bakuy kurang tau apakah kalau ganti rute harus bayar lagi atau tidak, dan apakah namanya juga 'noritsugi' atau bukan. Tapi seharusnya engga bayar sih. Dan mengingat Jepang bukan tipikal negara yang memperoleh uang dengan cara menguras kantong turis asing, Bakuy cukup yakin sepertinya tidak perlu bayar lagi.

Antrean membeli Kyoto Tourist Pass

Dan untuk Kyoto, sistem kereta bawah tanah di kota ini belum terlalu berkembang seperti Tokyo. Pun trem juga tidak ada di kota ini. Tapi, mereka punya jaringan bus yang tertata rapi. Teman-temankuy bisa beli Kyoto Day Tourist Pass di Stasiun Kyoto. Kalau tidak salah dia ada tiket terusan untuk 1 hari, 2 hari, 3 hari, dst. Berhubung Bakuy cuma sehari di Kyoto, jadi ya cuma beli yang 1-Day Pass hoho. Dengan kartu ini, kita bisa bebas naik-turun bus apapun di dalam kota Kyoto.

Note : Bakuy kurang hafal rute-rute bus Kyoto karena memang ada banyak sekali. Tapi di tempat pembelian tourist pass, teman-temankuy bisa ambil peta bus yang sangat membantu. Selama di Kyoto juga Bakuy sangat bergantung pada peta ini. Pokoknya jangan sampai lupa ambil karena kalau engga ada peta ini, hidup teman-temankuy selama di Kyoto bisa susah :(

JR Pass

Seperti yang sudah Bakuy jelaskan sebelumnya, Bakuy dan keluarga beli JR Pass melalui Traveloka waktu ada promo hoho. Lumayan dari harga IDR 3.7 juta (Japan 7-Days Whole Japan Pass) didiskon jadi IDR 3.2 juta per JR Pass. Jadi secara keseluruhan kita hemat IDR 2 juta (karena beli 4 JR Pass).

Saat beli JR Pass melalui aplikasi Traveloka, seinget Bakuy nanti ada pilihannya gitu apakah mau dikirim ke rumah atau ambil di booth Traveloka yang ada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Bakuy pilih ambil di booth Traveloka aja biar sekalian ke bandara. Kemudian kita akan diminta untuk memilih tanggal pengambilan MCO serta tanggal kunjungan ke Jepang. Ohiya, nanti kalau sudah beli JR Pass kita akan dikirim tanda terima gitu (kayak pembelian Traveloka lainnya). Nah, tanda terima ini harus ditukar jadi MCO saat pengambilan di bandara nanti maksimal 90 hari setelah tanggal pembelian. Setelah ditukar jadi MCO, kita punya waktu 7 hari untuk menukarnya menjadi JR Pass yang beneran di kantor JR di Jepang. Nanti di kantor JR di Jepang, kita akan ditanya kapan mau mulai menggunakan JR Pass tersebut. Setelah itu, staf JR akan meng-input tanggal tersebut dengan sangat cepat dan rapi (Bakuy jiper banget kalau ngelihat orang Jepang kerja karena selain luar biasa cepat dan rapi, mereka juga ramah banget!). Kalau sudah sampai tahap ini, kita udah engga bisa ganti tanggal aktivasi lagi. Jadi pastikan teman-temankuy engga salah tanggal yah!

Note : ini tata cara untuk pengambilan MCO di bandara yah, Bakuy kurang tau untuk yang pengiriman ke rumah.

JR Pass yang sukses dibeli di Traveloka!

Meskipun JR Pass tidak mencakup seluruh jaringan kereta api Jepang, tapi kartu ini sangat menghemat terutama bagi teman-temankuy yang ingin naik Shinkansen ke luar kota Tokyo. Sebab, tiket sekali jalan Shinkansen aja bisa sampai IDR 2 juta, jadi penggunaan JR Pass ini (yang Whole-Japan pass) sangat menghemat pengeluaran. Dan dengan menggunakan JR Pass ini, kita bisa mengeksplor hampir seluruh Jepang karena jaringan kereta api di Jepang sangat luas. Seluruh prefektur di Jepang dilayani oleh jaringan kereta api yang memadai, kecuali Prefektur Okinawa yang memang merupakan kepulauan kecil yang terpisah jauh dari daratan utama Jepang.

Seperti yang sudah Bakuy jelaskan tadi, selain kereta dalam kota Tokyo, pengguna JR Pass juga berhak untuk naik segala jenis Shinkansen kecuali yang Nozomi dan Mizuho. Jadi, Shinkansen memang ada beberapa macam yaitu Nozomi, Mizuho, Hikari, Kodama, Sakura, dan Hayabusa. Nanti akan ada kok tulisannya di peron dan badan kereta apakah itu kereta Nozomi, Mizuho, Hikari, Kodama, Sakura, atau Hayabusa. Jadi pastikan tidak salah naik yah! Terus, Bakuy juga engga beli yang green seat. Jadi engga eligible untuk naik gerbong green seat (kelas premium).

Stasiun Kyoto

Ohiya, ada beberapa rute kereta yang dilayani oleh JR Company tapi engga di-cover oleh JR Pass. Misalnya, kereta yang ke arah Tottori. Di JR Pass-nya nanti tertulis, kok rute-rute mana aja yang engga ter-cover oleh JR Pass. Tapi semua rute perjalanannya Bakuy dari Tokyo ke Nagasaki semua di-cover oleh JR Pass. Jadi untuk teman-temankuy yang mengikuti rute jalan-jalannya Bakuy, ga usah takut keluar uang lagi hoho.

Akomodasi

Di Jepang, Bakuy mencoba empat jenis kamar melalui tiga platform yang berbeda.

Sesampainya di Tokyo pertama kali, Bakuy dan keluarga nginap di hostel. Hohoho iyaaa, hostel. Jadi semacam dorm gitu. Tujuannya biar Mama dan Papa juga tau selama ini Bakuy nginapnya di tempat kayak gimana pas jalan-jalan (soalnya mereka selalu mengira Bakuy menghambur-hamburkan uang gitu dan engga percaya kalau jalan-jalan ke luar negeri bisa murah). Tapi hostelnya bukan yang jelek, kok. Hostel yang lumayan dan dekat banget ama Sensoji dan Hanayashiki. Namanya Sakura Hostel Asakusa.

Sakura Hostel Asakusa

Sakura Hostel Asakusa ini cukup komplit untuk ukuran hostel karena udah termasuk sarapan. Mereka juga ada layanan laundry dengan uang koin, jadi Mama suka banget karena bisa nyuci. Trus karena itu di Asakusa, jadi deket juga sama 7-Eleven, FamilyMart, dan Don Quijote. Maka, makanan pun tidak jadi persoalan. Ohiya, dapur di lantai 1 juga bisa digunakan bersama-sama. Kita pesan kamar yang 4-people shared bathroom dan kebetulan dapat di lantai 4 dan cuma kami aja di lantai tersebut hoho. Walaupun bangunannya terlihat gelap, untung rame-rame jadi engga takut hihi dan bisa lebih bebas karena engga ada yang protes kalau kami berisik. Kamar mandinya juga itungannya jadi seperti punya kami sendiri karena engga rebutan sama orang lain. Harga kamarnya juga engga mahal kok. Kita waktu itu pesan lewat Traveloka.

Kemudian kami pindah ke Nagasaki dan nginep di MP Hotels Nagasaki Mizubenomori yang Bakuy pesan lewat aplikasi Expedia. Asli, ini hotel paling favorit sih. Karena kamarnya unik banget! Menurut Bakuy, awalnya ini apartemen gitu yang beberapa kamarnya disewakan untuk hotel. Jadi kamarnya engga gede, tapi tempat tidurnya gede gitu tingkat. Kapasitasnya muat untuk 4 orang, dua di bawah dan dua di atas. Kamarnya bersih dan nyaman seperti masih baru. Trus hotel ini deket banget sama Terminal Trem Ourakaigandori. Otomatis, deket juga buat ke kantor Gunkanjima Concierge (alasan terkuat kenapa Bakuy pilih hotel ini). Btw, ini hotel yah bukan hostel. Jadi fasilitasnya lebih bagus.

Setelah dari Nagasaki, kita pindah ke Kyoto dan nginep di Guesthouse Taikoya Bettei yang dipesan dari Traveloka. Guesthouse ini agak spesial karena mengedepankan konsep tradisional Jepang, makanya rumahnya itu rumah kayu yang beralaskan tatami, serta tidurnya pakai futon gitu. Seru, sih, tapi guesthouse-nya tipe jadul gitu jadi kesannya kayak kurang terawat. Dan beruntungnya kami dapat kamar di lantai 1, soalnya untuk naik ke lantai 2 harus naik tangga yang gila curam dan sempitnya parah banget! Ga mungkin dah ada orang bisa bawa koper buat naik! Trus hostel ini juga engga menyediakan sarapan. Ada toko 100 yen yang dekat tinggal keluar gang (gang di Jepang bagus kok, jangan bayangin gang yang kayak di Indonesia yah).

Kamar Airbnb Favorit!

Setelah dari Kyoto, baru deh kita balik lagi ke Tokyo. Kali ini kita nginap di Airbnb yang ada di dekat Stasiun Uguisudani (terdapat di rute loop Yamanote Line, di-cover oleh JR Pass). Wah, ini udah bener-bener puncak kenyamanan sih! Asli, luaaaassssss banget dan komplit! Host-nya juga sangat cepat tanggap dalam menjawab setiap pertanyaan. Bahkan ada pocket WiFi yang bisa dipinjam gratis juga. Wah, bener-bener nyaman sih di sini. Btw, ini pengalaman pertama Bakuy pakai Airbnb, dan sepertinya kalau nge-trip sama keluarga lagi akan pakai Airbnb lagi karena selain lebih juga lebih nyaman daripada di hotel hoho.

Internet

Selama di Jepang, Bakuy pakai pocket WiFi Iziroam yang Bakuy pesan lewat Traveloka. Nanti akan diminta tanggal pengambilan dan pengembalian juga, yang keduanya bisa dilakukan di kaunter alfamart di Bandara Soekarno-Hatta yang telah disepakati di aplikasi. Walaupun harganya sangat terjangkau, layanan sangat memuaskan! Engga pernah ada masalah sama WiFi selama kita di Jepang. Baterai juga tahan lama. Bakuy sangat merekomendasikan pocket WiFi ini kalau teman-temankuy mau jalan-jalan ke Jepang, karena pasti sangat dibutuhkan untuk buka Google Maps.

Kesimpulan

Bakuy tidak akan bahas tentang destinasi karena teman-temankuy pasti sudah tau kalau Jepang itu negara yang asik banget untuk dikunjungi. Maka, Bakuy merasa tidak ada urgensinya bagi Bakuy untuk merekomendasikan teman-temankuy untuk datang kemari. Paling-paling Bakuy hanya memberi masukan pada teman-temankuy untuk mengeksplor sisi Jepang yang lain, seperti Nagasaki, karena justru di sana-lah Bakuy merasa paling kerasan.

So, kali ini Bakuy akan bahas tentang cara jalan-jalannya, yaitu bersama keluarga. Hmmm, Bakuy bukannya bermaksud bilang kalau solotraveling itu lebih seru dibanding traveling sama keluarga. Traveling sama keluarga itu seru banget. Selain itu, apabila traveling-nya dilakukan tanpa bantuan travel agent, kita jadi lebih bisa mengenal satu sama lain. Sebab, nanti resiko akan ditanggung bersama-sama. Sehingga, keluarga akan bersatu untuk memecahkan setiap persoalan bersama-sama. Dan pada saat itulah sifat asli masing-masing dari kita akan keluar.

Namun, sebagai seorang traveler yang udah lama solotraveling, memang harus Bakuy akui ada 'rasa' yang sedikit berbeda. Tentu saja, dengan traveling sama-sama, kita jadi harus banyak berkompromi. Misalnya, satu orang udah kecapekan dan jadi cemberut. Satu orang ingin ke tempat lain, padahal yang lain tidak mau ke sana. Yang satu ingin berlama-lama di satu destinasi, sedangkan yang lain ingin segera berpindah tempat.

Contoh paling mudahnya adalah ketika Mama ingin mencari sepatu olah raga di Jepang. Menurut Bakuy, itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Karena ya rasanya balik lagi kayak ke Indonesia, cari lapak, tanya harga, nyobain sepatu, dll. Trus apa faedahnya jalan-jalan kalau cuma buat beli sepatu? Bakuy ga ngerti dan ga bisa memahami hal ini. Tapi karena Mama pengen banget, jadi ya harus kompromi. Ini sesuatu yang tidak akan terjadi saat Bakuy solotraveling.

Kemudian ada lagi satu persoalan tentang makanan. Mama harus nyari makanan yang benar-benar halal. 'Benar-benar' di sini itu yang berarti 'benar-benar', lho. Jadi Mama akan nanyain setiap makanan mengandung daging babi atau tidak, alkohol atau tidak. Masalahnya, siapa yang tau bumbu makanan sampai ke detil-detilnya? Misal, beli mie instan nih di 7-11. Trus Mama akan tanya itu minyaknya gimana, bumbunya gimana, dll. Aduh, susah dong? Kalau gitu harus paham Kanji? Mama bahkan nyuruh nanya ke petugas kasirnya. Yekali mereka mana tahu, dong? Ibarat kita ke Indomaret trus tanya nih ke staf kasirnya 'ini minyak mie-nya mengandung kelapa sawit engga ya Mbak?' Dia pasti bingung, kan?

Itu baru kasusnya Mama. Papa beda lagi. Papa ini engga bisa memutuskan hal tentang makanan. Jadi suka bingung sendiri gitu. Yang bikin susah adalah Papa ini engga suka makan gorengan dan engga suka ayam! Padahal Papa bukan penikmat makanan internasional. Tau akibatnya? Sussssaaaaahhhhh banget buat nyariin makanan untuk Papa. Bahkan Papa sempat minta makan makanan Padang. Emmmm....

Alhasil, kita hampir selalu ribut tiapkali mau makan. Terutama Wakuy, karena dia lebih emosi daripada Bakuy yang lebih submissive.

Memang susah kalau seseorang yang udah sering solotraveling tiba-tiba disuruh jalan ramai-ramai, apalagi kalau orangnya introvert. Sejujurnya, Bakuy lebih suka solotraveling karena tanggung jawabnya cuma ke Bakuy sendiri. Jadi, Bakuy bebas mau ngapain juga, semua Bakuy yang handle. Tapi, apa itu berarti Bakuy engga mau traveling sama keluarga lagi? Of course Bakuy mau kok jalan-jalan sama keluarga lagi. Mau banget malah. Tapi Bakuy pasti pilih-pilih ke destinasi yang mudah. Bakuy engga bisa bayangin kalau Mama dan Papa ikut trip Bakuy yang ke Jordania. Pasti mereka kelelahan luar biasa. Jadi, kalau trip sama keluarga, pastinya ke tempat-tempat yang udah well-established atau yang ga banyak aktivitas outdoor-nya.

So, when will we travel again? I don't know, tunggu aja sampai pandemi corona ini berakhir :(


Komentar


You Might Also Like:

20220525_001003[1]
20190920_143037
20191207_141107
20220524_162459[1]
20191201_175832
20190918_081423%20(1)_edited
20190727_094635_edited
20190921_112855
20191202_124237
Church of the Savior on Blood, Saint Petersburg, Russia
About Me

Bayu, atau yang (belakangan ini) kerap dipanggil Bakuy, merupakan orang biasa yang memutuskan menjadi seorang solotraveler sejak tahun 2015. Pengalaman traveling-nya mungkin masih sangat minim, tapi kisah-kisah seru seorang solotraveler membuatnya tak tahan untuk tidak berbagi cerita dengan banyak orang

 

Read More

 

Join my mailing list

Bakuyyyy

Subscribe di sini ya teman-temankuy!

bottom of page