Resolusi 2018?
- 1 Jan 2018
- 8 menit membaca
Diperbarui: 19 Jun 2020

Halo teman-temankuy semua!
Sebelum memulai artikel story kali ini, Bakuy ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal 2017 dan Tahun Baru 2018! Mohon maaf karena ucapan yang terlambat. Sebetulnya Bakuy sudah ingin menulis artikel ini sejak sebelum Natal sebagai Christmas Special Post. Tapi karena satu dan lain hal, artikel ini harus tertunda hingga tanggal 1 Januari 2018. Masih belum terlalu terlambat kan ya? Hehe. Pokoknya, semoga di tahun ini, Bakuy dan setiap subscribers serta pembaca jalansendiriaja bisa menjadi pribadi yang lebih baik, sehat selalu, diberikan rezeki yang berkecukupan, serta dipermudah langkahnya dalam meraih cita-cita. Aaamiin.
Resolusi 2018?
Kalau ditanya tentang resolusi tahun 2018, Bakuy sepertinya sulit menjawab. Bakuy ini bukan tipikal orang yang visioner. Jadi Bakuy cenderung akan mengikuti aliran yang ada, selama itu membuat Bakuy bahagia dan nyaman. Jadi Bakuy bukan tipe yang tiap tahun bikin tema serta visi misi baru gitu. Itu bagus, sih. Tapi sayangnya Bakuy bukan yang seperti itu :") Paling pol resolusi yang Bakuy buat adalah : semoga di tahun depan Bakuy bisa lebih menikmati dan memaknai hidup. Ini agak muluk sih, tapi ya that's it. Bakuy hanya ingin menjadi lebih bahagia dari tahun-tahun sebelumnya.

Tapi, untuk urusan traveling, lagi-lagi Bakuy punya standar berbeda. Tiap tahun, Bakuy akan mencari-cari destinasi traveling baru, menentukan berapa budget minimal untuk ke sana, dan kapan dana tersebut harus sepenuhnya terkumpul. Nah, untuk tahun ini, Bakuy punya target untuk menelusuri Timur Tengah. Seperti yang teman-temankuy ketahui, Bakuy belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Timur Tengah. Bahkan untuk transit di negara-negara yang mainstream seperti Qatar dan United Arab Emirates (UAE) saja Bakuy belum pernah. Maka dari itu, Bakuy sudah menargetkan tahun ini Bakuy HARUS mencapai Timur Tengah. Bakuy kepengen lihat unta langsung dari habitatnya serta memandangi gurun yang berdesir-desir. Bakuy ingin tahu seperti apa sih masyarakat yang selama ini membanggakan diri sebagai masyarakat berperadaban paling tua sedunia. So, Middle East, I'll come for you this year~
Tujuan?
Kalau bicara tentang Timur Tengah, berarti Bakuy sedang membahas sebuah wilayah yang berawal dari Irak di timur dan berakhir di Israel di barat, serta berawal dari Suriah di utara dan berakhir di Yaman di selatan. Dari rentang wilayah tersebut, ada begitu banyak negara terbentang yang kaya akan sejarah. Akan tetapi, tidak mungkin Bakuy menelusuri seluruh wilayah tersebut dikarenakan keterbatasan sumber daya yang Bakuy miliki.

Setelah mempertimbangkan masak-masak, Bakuy langsung memasukkan Lebanon sebagai destinasi wajib dikunjungi tahun 2018 ini. Alasannya sederhana : Bakuy penasaran dengan masyarakat Lebanon yang merupakan masyarakat paling beragam di Timur Tengah. Di samping itu, Lebanon sangat kaya akan wisata sejarah, terutama situs-situs peninggalan bangsa Romawi dan Ottoman. Lebanon juga masih belum familiar di telinga orang Indonesia. Sehingga, Bakuy merasa perlu untuk mengunjungi Lebanon tahun ini. Oh iya, walaupun alam dan sejarahnya indah, Lebanon masih belum sepenuhnya bangkit dari perang saudara 1975-1990 dan perang Israel-Lebanon tahun 2006. Masyarakatnya masih tersegregasi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan afiliasi keagamaannya. Ngeri, kan? Tapi begitu menonton video ini yang ada di sini, Bakuy malah makin tergerak untuk segera mengunjungi negara tersebut karena entah kenapa suka aja dengan semangat orang-orangnya untuk kembali bangkit dari keterpurukan :))
Akan tetapi, ada banyak kendala untuk mencapai Lebanon. Salah satunya adalah ongkos pesawat yang mahal. Memang, airfare di Timur Tengah itu terkenal mahal najis. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya lowcost carrier di wilayah tersebut. Jalur darat juga bukan opsi yang bagus, mengingat konektivitas darat negara-negara Timur Tengah masih buruk. Setelah Bakuy melakukan riset sana-sini, ada 3 jalur termurah untuk mencapai Rafic Hariri International Airport di Beirut. Ketiga jalur tersebut antara lain melalui Istanbul, Dubai, atau Kairo.

Opsi Dubai mulanya terlihat menarik. Bakuy menemukan rute murah yang bermula dari Jakarta ke Chennai (India), yang lalu naik LCC menuju Dubai, kemudian dilanjutkan ke Beirut. Namun, mengingat kebijakan visa Uni Emirat Arab yang harganya nyebelin, Bakuy memutuskan untuk mencari alternatif lain.
Istanbul adalah pilihan kedua tapi dari segi attractiveness, jauh lebih menarik dibanding Dubai yang cuma gedung-gedung futuristik dan gurun doang. Di Istanbul ini wisata-wisata sejarahnya jauh lebih kaya dan beragam. Bangunan-bangunan bersejarahnya juga jauh lebih instagrammable ketimbang Dubai (menurut Bakuy, yang notabene menyukai gedung-gedung berarsitektur klasik). Tapi tapi tapi, belum ada nih tiket promo menuju Istanbul baik dari CGK maupun KUL. Bakuy yang frustrasi melihat harga yang di kisaran 8jt an PP (menurut Bakuy ini masih mahal banget), Bakuy pun memutuskan mencari alternatif lain.
Ketika Bakuy uda hampir menyerah, eh tiba-tiba Bakuy menemukan satu rute lagi yang tak kalah menarik : Kairo! Bagi teman-temankuy penggemar Fahri di film Ayat-Ayat Cinta, pasti familiar dong dengan ibukota Mesir ini. Bagi Bakuy, mengunjungi Mesir merupakan salah satu mimpi terbesar. Bakuy langsung semangat membayangkan piramida dan sphinx, Laut Merah, Alexandria, hingga Cairo Metro yang katanya sama canggih dengan metro di Paris. Daaaan, flight dari Kairo ke Beirut ternyata relatif murah! Bahkan lebih murah ketimbang flight menuju Amman di Jordania yang padahal jaraknya lebih dekat. Biaya visanya juga lebih murah dibanding UAE. Maka tanpa pikir panjang, Bakuy pun memantapkan Mesir sebagai 'batu loncatan' menuju Lebanon.

Maka, voila, inilah resolusi terbesar 2018 Bakuy : visiting Egypt and Lebanon!
Kendala-Kendala
Walaupun tekad Bakuy sudah bulat sebulat-bulatnya untuk mencapai Mesir dan Lebanon, tapi tetap saja selalu ada kendala yang mungkin bisa mempengaruhi kesuksesan rencana ini. Dan, agaknya kendala tahun 2018 ini 'sedikit' lebih berat ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Kendala pertama adalah airfare. Seperti yang Bakuy katakan tadi, airfare ke Middle East itu muahalll! Harganya nyaris menyamai ongkos ke Eropa, sehingga wajar apabila orang-orang lebih memilih langsung terabas ke Eropa ketimbang hanya mengelilingi Timur Tengah. Bakuy pun mengalami hal serupa. Sebagai warga ASEAN yang terbiasa dengan harga 400rb dengan rute CGK-KUL, Bakuy tercengang saat melihat dengan jarak dan waktu tempuh yang sama, ongkos Amman-Beirut itu bisa 2jt lebih. Harga termurah adalah melalui Dubai, Istanbul, dan Kairo, yang masing-masing kena 1jt an sekali jalan. Apa karena orang Arab pada kaya-kaya, ya? Bakuy juga engga ngerti. Tapi yang jelas, Bakuy sendiri masih waswas terkait airfare ini.

Kendala kedua adalah biaya selama perjalanan. Lagi-lagi, setelah mencaritahu pengalaman traveler lain melalui berbagai blog, Bakuy menemukan fakta bahwa biaya hidup di Timur Tengah itu tidak murah, apalagi di Lebanon. Bakuy belum berani menggambarkan sebagaimana mahalnya hidup di sana karena Bakuy sendiri belum ada pengalaman, tapi yang jelas, Bakuy tampaknya harus sedia mie instan setiap saat.

Kendala ketiga adalah visa. Daaan harus Bakuy tekankan lagi di sini betapa menyedihkannya kekuatan paspor Indonesia, teman-temankuy semua :"" karena untuk mengunjungi Mesir maupun Lebanon, WNI masih harus mengurus visa secara tradisional di kedutaan, berbeda dengan warga Malaysia yang sudah mendapat fasilitas Visa on Arrival (VoA). Ini Bakuy sensi banget sumpah. Maklum ya kalau Schengen, tapi ini Mesir dan Lebanon cuy. Negara-negara random yang menurut Bakuy sih harusnya gaperlu paranoid ada pendatang ilegal karena ya mereka sama susahnya kayak Indonesia, atau bahkan lebih susah ya mungkin. Tapi mungkin pertimbangannya faktor lain ya, misal terorisme dan yang semacamnya. Yang jelas lagi-lagi visa membuat Bakuy harus pusing tujuh keliling lagiii :")
Tapi balada visa kali ini sepertinya akan lebih memusingkan, teman-temankuy. Sebab, aplikasi visa Mesir dan Lebanon itu tidak sederhana. Mesir menginginkan bukti keuangan 3 bulan terakhir berupa rekening koran tabungan. Bagi Bakuy yang tabungannya mulai menipis dan gaada 10jt, jelas ini kendala yang membuat jantung dag-dig-dug. Belum lagi harus melampirkan tiket PP. Aduh, berapa coba sisa tabungan Bakuy waktu apply visa ntar? Kemungkinan ditolaknya gede. Jadi mungkin Bakuy akan coba pinjam rekening koran Mama HAHAHA. Lagian kan Bakuy masih mahasiswa ya. Tapiii, duh kondisi Bakuy sekarang begitu kompleks sehingga untuk meminta rekening koran ke Mama yang tinggal di luar kota saja mager banget.

Visa Lebanon malah jauh lebih random lagi. Kedutaan Lebanon mewajibkan letter of invitation from Lebanese citizens or company to guarantee the applicants and it must be approved and signed by La Surete Generale in Lebanon. Lah? Trus kalau turis backpacker yang gapunya kenalan orang Lebanon gitu gimana dong? Bakuy coba cari travel agent dan hotel di Lebanon yang sekiranya bersedia menyediakan dokumen ini. Tapi informasi terkait dokumen ini ternyata amat sangat minim sekali. Mungkin karena sebagian besar turis yang ke Lebanon itu adalah orang Eropa yang notabene sudah dapat fasilitas VoA jadi gaperlu pusing-pusing ngurus dokumen semacam ini. Bahkan, tidak ada travel agent maupun hotel yang bisa menyediakan dokumen ini. Beda sekali ya dengan invitation letter ke Rusia yang bisa dibeli via internet huhu :"
Intinya, Bakuy belum menemukan solusi untuk visa Lebanon ini. Jadi Bakuy akan menelepon kedutaan Lebanon esok hari untuk menanyakan requirements seputar visa. Doakan semoga jawabannya membantu ya teman-temankuy :")

Nah, kendala yang keempat adalah waktu. Tak terasa, Bakuy sudah menjadi mahasiswa tua. Sudah masuk semester 8 dan Insya Allah akan wisuda bulan Agustus 2018 ini. Itu berarti, Bakuy sudah akan masuk ke bursa tenaga kerja dan sayonara kegabutan! Udah engga ada lagi tuh leha-leha di kampus dan tau-tau akhir bulan dapet transferan dari orang tua. Seperti orang kantoran pada umumnya, kemungkinan besar Bakuy akan terikat oleh batas cuti, lembur, dsb. Otomatis, waktu untuk jalan-jalan akan semakin terbatas. Udah engga ada tuh yang namanya jatah bolos :(
Bagi seorang travel addict, ini mungkin semacam mimpi buruk. Tapi ya mau gimana lagi ya. Jalan-jalan juga butuh duit. Dan untuk dapet duit itu ya kudu kerja atau nyugih. Ga mungkin dong Bakuy pilih nyugih? Maka ya mau gimana lagi :( Bakuy cuma bisa berdoa, semoga nanti tempat kerja Bakuy nyaman dan mendukung hobi Bakuy ini :)
Nah, balik lagi ke kendala waktu, kemungkinan tahun 2018 ini Bakuy cuma bisa sekali atau dua kali trip. Itupun satu trip jauh (yakni graduation trip) dan satu trip dekat, yakni kemungkinan besar ke negara ASEAN aja yang bisa dijangkau pas weekend. Untuk trip yang jauh (kemungkinan besar Mesir dan Lebanon), mungkin Bakuy bisa adakan bulan April atau Juli yang mana itu masih menjelang wisuda gitu jadi belum kerja. Dan trip yang ASEAN ya nanti lihat sikon calon kantor Bakuy aja. Pokoknya tahun 2018 ini Bakuy pesimis bisa mencapai target rata-rata 5 stempel imigrasi negara berbeda dalam 1 tahun.

Kendala kelima, dan sejauh ini adalah kendala terakhir, adalah keamanan. Seperti yang kita semua ketahui, situasi politik di Timur Tengah sekarang ini sedang kacau. Kegaduhan ada di mana-mana. Mesir yang sebelumnya stabil aja kini malah lagi agak gonjang-ganjing. Apalagi Lebanon, yang sejak awal keamanannya sudah sangat rentan akibat masyarakatnya yang terkotak-kotak. Belum lagi konflik di negara tetangganya, Suriah, yang bisa menular ke Lebanon kapan saja. Lalu ditambah lagi, katanya sekarang Arab Saudi berencana mengobarkan perang proksi dengan faksi Hezbollah di Lebanon yang sekutunya Iran. Hadeeeh pusing deh. Emang ngeri sih dengernya, tapi ya kalau kita nungguin tenang, kita ga akan pergi sampai kapanpun. Sebab, keamanan dan stabilitas memang merupakan penyakit berkepanjangan di Timur Tengah. Wilayah itu kelihatannya memang tidak pernah stabil sejak dahulu kala. Jadi emang udah kodratnya berantem mulu. Sehingga Bakuy sih kurang menitikberatkan yang ini sih. Paling ntar Bakuy beli asuransi aja yang gedean gitu coverage-nya HAHAHA!
Kesimpulan
Wah kok jadi panjang dan meleber ke mana-mana gini ya bahasannya? Hehe, tapi yauda deh. Pokoknya, Bakuy tahun ini akan tetap traveling meski kendalanya banyak dan Bakuy sendiri sebetulnya agak pesimistis dengan kendala-kendala umum tersebut (belum lagi kendala lain yang sifatnya personal, yang tidak mungkin Bakuy ceritakan di sini). Tapi ya Bakuy akan berusaha keras supaya rencana-rencana itu dapat tercapai. Aamiin.
Saran Bakuy untuk teman-temankuy, terutama yang masih kuliah dan mempunyai tabungan lebih, sisihkanlah dana tersebut untuk traveling yang agak jauh dan random. Tempat-tempat wisata mainstream seperti Eropa dan Jepang memang menarik, tapi misalnya teman-temankuy ingin mengunjungi satu tempat yang unik, berbeda, saat kuliah itu mungkin adalah waktu yang tepat karena teman-temankuy punya libur yang amat sangat banyakkk :")) mungkin kalau sudah kerja, tempat-tempat tersebut akan sulit kita capai karena keterbatasan yang ada terutama waktu. Jadi, come on, let's dreaming! Bakuy sendiri pengen banget nih ke Ethiopia dan Tunisia, dua negara yang super random bagi orang Indonesia. Tapi Bakuy sangat tertarik sebab Ethiopia itu punya sejarah yang terikat kuat dengan sejarah agama-agama Abrahamik, sedangkan Tunisia itu keturunan bangsa Funisia yang sama dengan orang Lebanon. Sayangnya, Bakuy belum ada waktu dan dana yang cukup untuk menjelajah dua negara ini :")
Dan sebelum artikel kali ini Bakuy akhiri, izinkan Bakuy sekali lagi mengucapkan Merry Christmas 2017 and Happy New Year 2018! Wish this year brings us more joy, love, and glory!




Komentar